Jakarta, Eksisjambi.com – Indonesia memiliki ribuan sungai, danau, waduk, hingga wilayah laut yang luas. Kondisi geografis tersebut membuat pesawat amfibi pemadam kebakaran seperti Canadair CL-415 kerap dianggap sebagai solusi ideal untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berbeda dengan pesawat water bombing konvensional yang harus mengisi air di darat, pesawat amfibi mampu mengambil air langsung dari permukaan danau, sungai, atau laut tanpa perlu mendarat. Dalam hitungan detik, pesawat dapat kembali menuju lokasi kebakaran dan menjatuhkan ribuan liter air.
Kemampuan tersebut membuat CL-415 dinilai sangat efektif untuk kebakaran di kawasan yang dekat dengan sumber air. Namun, efektivitasnya tidak selalu berlaku di semua wilayah Indonesia.
Efektif, Tetapi Ada Banyak Syarat
Pesawat amfibi memerlukan permukaan air yang cukup luas, tenang, dan bebas hambatan agar dapat melakukan proses pengambilan air dengan aman. Selain itu, kondisi cuaca, kecepatan angin, serta jarak antara sumber air dan lokasi kebakaran juga sangat menentukan keberhasilan operasi.
Di sisi lain, sebagian besar kebakaran besar di Indonesia terjadi pada lahan gambut. Jenis kebakaran ini memiliki karakteristik berbeda karena api dapat membara hingga ke bawah permukaan tanah sehingga sulit dipadamkan hanya dengan penyiraman dari udara.
Water bombing memang mampu mengurangi intensitas api di permukaan, tetapi sering kali tidak cukup untuk memadamkan bara api yang berada di dalam lapisan gambut. Oleh karena itu, operasi udara tetap harus didukung pemadaman darat serta proses pembasahan lahan secara menyeluruh.
Pencegahan Dinilai Lebih Efisien
Sejumlah pengamat kebencanaan menilai bahwa investasi terbesar sebaiknya tetap diarahkan pada upaya pencegahan. Langkah-langkah seperti menjaga tinggi muka air gambut, membangun sekat kanal, patroli terpadu, sistem deteksi dini titik panas, edukasi masyarakat, hingga penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran dinilai lebih efektif dalam menekan jumlah kebakaran.
Pendekatan pencegahan juga dianggap lebih hemat dibandingkan biaya penanganan saat kebakaran telah meluas. Selain mengurangi kerusakan lingkungan, strategi ini mampu menekan dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, transportasi, hingga aktivitas ekonomi.
Kombinasi Menjadi Solusi Ideal
Para ahli menilai pilihan terbaik bukanlah memilih salah satu di antara keduanya. Indonesia tetap membutuhkan armada pesawat pemadam kebakaran modern sebagai respons cepat ketika kebakaran besar terjadi. Namun, pengadaan armada tersebut sebaiknya berjalan seiring dengan peningkatan anggaran untuk pencegahan karhutla.
Dengan strategi tersebut, pemerintah memiliki kemampuan merespons kebakaran secara cepat sekaligus mengurangi risiko munculnya kebakaran besar setiap musim kemarau.
Pada akhirnya, pesawat amfibi seperti CL-415 dapat menjadi aset penting dalam sistem penanggulangan karhutla nasional. Namun, tanpa upaya pencegahan yang kuat, keberadaan armada canggih tersebut tidak akan mampu mengatasi akar persoalan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.*







