Jakarta – Bank sentral dunia baru saja melampaui batas simbolis yang belum pernah terjadi dalam hampir tiga dekade terakhir, Untuk pertama kalinya sejak tahun 1990-an.
nilai cadangan emas gabungan mereka kini lebih besar di bandingkan kepemilikan surat utang (Treasuries) Amerika Serikat.
Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam strategi pengelolaan cadangan devisa global. Setelah bertahun-tahun bergantung pada aset berbasis dolar.
Bank-bank sentral kini semakin aktif mengalihkan sebagian cadangannya ke aset riil atau hard assets seperti emas.
Visualisasi data dari analis makro Crescat Capital, Tavi Costa, yang di kutip dari Visual Capitalist, menunjukkan perubahan tren ini dengan jelas, Sejak berakhirnya sistem Bretton Woods pada awal 1970-an.
Cadangan devisa global di dominasi oleh surat utang AS, terutama karena suku bunga riil yang tinggi serta pengaruh sistem petrodollar pada dekade 1980–1990-an.
Memasuki era 2000-an, kekuatan dolar dan likuiditas pasar keuangan Amerika Serikat semakin memperkuat posisi surat utang AS sebagai aset utama yang di pegang bank-bank sentral dunia, Namun, sejak tahun 2022, tren tersebut mulai berbalik arah.
Menurut data, pada tahun 2022 bank-bank sentral membeli 1.136 ton emas, jumlah tertinggi dalam sejarah modern dan Pembelian masif ini berlanjut pada 2023 dan 2024, memperkuat posisi emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko inflasi dan ketidakpastian geopolitik.
Kini, sekitar 20 persen dari seluruh emas yang pernah di tambang di dunia berada di tangan bank-bank sentral, Kondisi ini menggambarkan meningkatnya upaya di versifikasi dari ketergantungan terhadap dolar AS menuju aset yang di nilai lebih aman dan berwujud fisik.
Apa Artinya “Emas Lebih Banyak daripada Surat Utang AS”?
Ungkapan ini tidak sekadar menggambarkan nilai statistik. Ia menandakan perubahan paradigma global terhadap kepercayaan pada sistem keuangan berbasis dolar.
Kenaikan kepemilikan emas menunjukkan bahwa banyak negara mulai mempersiapkan diri menghadapi potensi melemahnya dominasi dolar AS, baik karena inflasi, defisit fiskal Amerika yang terus melebar, maupun meningkatnya ketegangan geopolitik.
Dengan cadangan emas yang kini melampaui surat utang AS, bank-bank sentral dunia tampak berupaya mengamankan stabilitas jangka panjang mereka beralih dari janji utang ke aset yang nilainya di anggap abadi.(*)







