Home / Daerah / Nasional / News / Provinsi Jambi

Senin, 11 Mei 2026 - 10:41 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Jambi Melambat di Awal 2026, Pakar Soroti Ketergantungan Komoditas

Jambi, http://Eksisjambi.com – Ekonomi Provinsi Jambi masih tumbuh positif pada awal 2026. Namun di balik angka pertumbuhan tersebut, terdapat perlambatan yang mulai terasa dalam aktivitas ekonomi masyarakat.

Guru Besar Ekonomi Universitas Jambi, Prof. Dr. H. Haryadi menyebut kondisi ini sebagai paradoks ekonomi. Secara statistik ekonomi tumbuh, tetapi pergerakan ekonomi di lapangan justru melambat.

Ekonomi Jambi Tumbuh 4,33 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi merilis pertumbuhan ekonomi Jambi pada Triwulan I 2026 sebesar 4,33 persen secara tahunan atau year-on-year (y-on-y).

Angka tersebut menunjukkan ekonomi daerah masih bertahan di tengah ketidakpastian global. Namun pertumbuhan ini lebih rendah dibanding Triwulan IV 2025 yang mencapai sekitar 4,77 persen.

Secara kuartalan atau quarter-to-quarter (q-to-q), ekonomi Jambi bahkan mengalami kontraksi sebesar 4,55 persen dibanding akhir tahun lalu.

Menurut Haryadi, perlambatan ini menunjukkan ekonomi daerah belum memiliki fondasi yang cukup kuat.

“Ekonomi Jambi masih tumbuh, tetapi momentumnya melemah. Ini terlihat dari aktivitas ekonomi masyarakat yang mulai melambat pada awal tahun,” ujarnya.

Pertumbuhan Jambi Masih di Bawah Nasional

Jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai sekitar 4,87 persen, posisi Jambi masih berada di bawah rata-rata nasional.

Secara nasional, pertumbuhan ekonomi mulai ditopang sektor industri pengolahan, investasi, digitalisasi ekonomi, dan konsumsi rumah tangga.

Sementara itu, ekonomi Jambi masih sangat bergantung pada komoditas primer dan belanja pemerintah.

Awal Tahun Jadi Periode Perlambatan

Haryadi menjelaskan, perlambatan ekonomi pada awal tahun sebenarnya sering terjadi.

Baca Juga :  Laju Inflasi, TPID Kerinci Siapkan Langkah Konkret Libatkan Lintas Sektor

Pada akhir tahun, belanja pemerintah biasanya meningkat untuk mengejar target serapan anggaran. Aktivitas perdagangan dan konsumsi masyarakat juga naik saat Natal dan Tahun Baru.

Namun memasuki awal tahun, proyek pemerintah belum berjalan optimal dan konsumsi masyarakat kembali normal.

Meski demikian, ia menilai persoalan utamanya bukan sekadar faktor musiman.

“Kalau ekonomi langsung melemah saat belanja pemerintah turun, berarti aktivitas ekonomi masyarakat belum mandiri,” katanya.

Ketergantungan Komoditas Jadi Masalah

Ekonomi Jambi saat ini masih bergantung pada batu bara, kelapa sawit, karet, dan sektor perkebunan lainnya.

Saat harga komoditas dunia naik, ekonomi daerah ikut terdorong. Sebaliknya, ketika harga melemah, ekonomi daerah langsung terkena dampak.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga batu bara dunia sebenarnya masih cukup baik akibat konflik geopolitik internasional dan ketidakpastian energi global.

Namun kondisi itu belum mampu menjaga pertumbuhan ekonomi Jambi tetap tinggi.

Data BPS menunjukkan sektor konstruksi mengalami kontraksi cukup besar akibat melambatnya proyek pembangunan pemerintah.

Selain itu, sektor jasa pendidikan dan jasa lainnya juga ikut menurun setelah aktivitas ekonomi akhir tahun selesai.

Belanja pemerintah bahkan turun lebih dari 30 persen secara kuartalan.

Diversifikasi Ekonomi Dinilai Lemah

Haryadi menilai Jambi belum memiliki diversifikasi ekonomi yang kuat.

Saat sektor komoditas terganggu atau belanja pemerintah turun, ekonomi daerah langsung melemah karena sektor swasta belum mampu menjadi penggerak utama.

Menurutnya, Jambi juga belum memiliki industri pengolahan yang cukup kuat untuk menciptakan nilai tambah.

Baca Juga :  Prabowo Temui 13 Raksasa Industri Jepang di Tokyo

Akibatnya, pertumbuhan ekonomi masih bergantung pada ekspor bahan mentah dan fluktuasi harga komoditas global.

“Pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan masyarakat luas karena sebagian besar keuntungan masih berputar di perusahaan besar,” ujarnya.

Infrastruktur Masih Jadi Kendala

Persoalan infrastruktur juga menjadi tantangan serius bagi ekonomi Jambi.

Polemik jalan hauling batu bara dinilai menghambat aktivitas ekonomi dan meningkatkan biaya logistik.

Kemacetan angkutan batu bara serta kerusakan jalan membuat distribusi barang menjadi tidak efisien.

Menurut Haryadi, kondisi ini dapat menurunkan daya saing ekonomi daerah dalam jangka panjang.

Peluang Pemulihan Masih Terbuka

Meski mengalami perlambatan, peluang pemulihan ekonomi Jambi pada Triwulan II dan III 2026 masih terbuka.

Belanja pemerintah diperkirakan mulai meningkat setelah proses administrasi proyek selesai. Aktivitas konstruksi dan pembangunan infrastruktur juga diprediksi kembali bergerak pada pertengahan tahun.

Selain itu, harga batu bara dan crude palm oil (CPO) dunia masih berpotensi menopang sektor ekspor daerah.

Namun Haryadi mengingatkan bahwa ketidakpastian ekonomi global tetap perlu diwaspadai.

Momentum Perkuat Ekonomi Daerah

Menurut Haryadi, perlambatan ekonomi saat ini harus menjadi momentum memperkuat fondasi ekonomi daerah.

Ia menilai Jambi memiliki potensi besar dari sektor sumber daya alam, perkebunan, pertambangan, hingga peluang hilirisasi industri dan ekonomi hijau.

“Jambi tidak hanya harus tumbuh tinggi, tetapi juga tumbuh lebih kuat dan merata,” katanya.**

Share :

Baca Juga

News

Kapolri Tegaskan Pentingnya Dialog Publik untuk Perbaikan Polri
Indonesia mencatat kemajuan swasembada pangan 2026

News

Indonesia Menuju Swasembada Pangan 2026, 7 Komoditas Strategis Tak Lagi Bergantung Impor

News

Kapan Kepala Daerah Terpilih Hasil Pilkada 2024 Dilantik.??

Advertorial

Imigrasi Kerinci gelar Operasi Gabungan TIMPORA Kota Sungai Penuh
Analisis dan Bjorka

Internasional

Pakar Keamanan Digital Bantah Isu Bjorka Berasal dari Sulawesi Utara

Advertorial

Calon Incumbent Ahmadi Zubir Raih Rekomendasi PDIP untuk Pilwako Sungai Penuh

Daerah

Dilla-Tanja Tawarkan 18 Program Kerja Nyata Bangun Tanjabtim

Bangko

Pemimpin Bank 9 Jambi Cabang Bangko Mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1444 H