Manado, Eksisjambi.com – Spekulasi yang mengaitkan peretas fenomenal “Bjorka” dengan wilayah Sulawesi Utara di mentahkan oleh hasil analisis teknis, Rumy Taulu, pakar keamanan digital asal Manado, menegaskan bahwa berdasarkan bukti-bukti digital, seluruh jejak aktivitas Bjorka secara konsisten mengarah ke kawasan Rusia atau Eropa Timur, bukan Indonesia.
Dalam wawancara eksklusif di Manado, Sabtu (4/10/2025), Rumy menilai klaim yang beredar di masyarakat tidak memiliki dasar teknis yang kuat.
“Informasi itu keliru,” tegas Rumy dan Hasil analisis digital forensik kami, yang di perkuat pemantauan di forum underground internasional seperti Leakbase, menunjukkan pola aktivitas Bjorka berasal dari jaringan luar negeri dan Hingga saat ini, tidak ada satu pun bukti forensik yang mengarah ke individu di Indonesia, apalagi dari Sulawesi Utara.”
Menurut Rumy, Bjorka bukan sosok baru di dunia siber, Ia telah lama di kenal di komunitas peretas global, dengan ciri khas pola bahasa, zona waktu aktivitas, hingga metode serangan siber yang identik dengan pelaku dari luar yurisdiksi Indonesia.
“Bjorka ini sudah lama aktif di dunia siber internasional, Semua jejak digitalnya, jika di analisis secara mendalam, sangat konsisten dengan jaringan peretas dari Eropa Timur atau Rusia,” tambahnya.
Hormati Proses Hukum, Fokus pada Analisis Teknis, Meski temuannya berbeda dengan narasi yang berkembang, Rumy menegaskan bahwa pandangannya murni di dasarkan pada kajian ilmiah keamanan digital dan tidak di maksudkan untuk membantah hasil penyelidikan resmi yang di lakukan Kepolisian Republik Indonesia (Polri).
“Saya ingin menegaskan, pernyataan ini bukan untuk menyanggah Polri dan Saya sangat menghormati proses hukum yang sedang berjalan,” ujarnya.
“Namun, dari sisi teknis dan data digital yang kami analisis, klaim bahwa Bjorka berasal dari Sulawesi Utara tidak dapat di buktikan.”ungkap Rumy.
Rumy juga mengimbau masyarakat dan media untuk lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi yang belum terverifikasi secara ilmiah, terlebih dalam kasus siber yang kompleks.
“Dalam dunia siber, kebenaran harus di bangun dari data, bukan asumsi. Pelaku kejahatan siber sangat lihai menggunakan identitas dan lokasi palsu untuk menipu,” tutupnya.
Ia berharap ke depan ada kolaborasi yang lebih erat antara pakar digital independen dan aparat penegak hukum agar penanganan ancaman siber di Indonesia semakin komprehensif dan berbasis data akurat.(*)







