Bengkulu, http://Eksisjambi.com – Umat Islam mulai menantikan kepastian Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Berdasarkan perhitungan astronomi (hisab), Idul Adha di perkirakan jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026, bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1447 H.
Informasi ini di sampaikan dalam kajian yang beredar dari kalangan ulama, salah satunya KH. Muhammad Syamlan dari PPIIT Rabbani Bengkulu. Dalam penjelasannya, penentuan awal bulan Dzulhijjah di dasarkan pada posisi hilal (bulan sabit muda) menjelang waktu maghrib.
Di sebutkan, pada Sabtu menjelang matahari terbenam, posisi bulan masih berada di bawah ufuk atau terbenam lebih dahulu di banding matahari. Kondisi ini menunjukkan hilal belum terlihat, sehingga belum memungkinkan penetapan awal bulan pada hari berikutnya.
Sementara itu, pada Ahad menjelang maghrib, posisi bulan sudah berada di atas ufuk dan secara astronomis memungkinkan untuk terlihat di berbagai wilayah, baik di Makkah, Jakarta, maupun Jayapura. Dengan demikian, 1 Dzulhijjah 1447 H di perkirakan jatuh pada Senin, 17 Mei 2026.
Berdasarkan penetapan tersebut, maka rangkaian hari penting dalam ibadah haji dan Idul Adha adalah sebagai berikut:
- 9 Dzulhijjah 1447 H (Hari Arafah): Selasa, 26 Mei 2026
- 10 Dzulhijjah 1447 H (Idul Adha): Rabu, 27 Mei 2026
Prediksi ini juga di sebut sejalan dengan hasil perhitungan yang telah di umumkan oleh organisasi Islam Muhammadiyah, yang menggunakan metode hisab dalam menentukan kalender Hijriah.
Lebih lanjut, kajian tersebut menekankan pentingnya penyatuan kalender Hijriah secara global. Dengan pendekatan hisab yang di nilai akurat, di harapkan umat Islam di seluruh dunia dapat memiliki kesamaan tanggal dalam penentuan hari-hari besar keagamaan.
Selain itu, penggunaan metode astronomi di nilai dapat memberikan kepastian lebih awal tanpa harus menunggu hasil rukyatul hilal yang kerap di lakukan mendekati waktu penetapan. Hal ini juga di nilai lebih efisien dari segi waktu dan anggaran.
Meski demikian, penetapan resmi Idul Adha di Indonesia tetap menunggu keputusan pemerintah melalui sidang isbat yang di gelar oleh Kementerian Agama.
“Kalau bisa di permudah, untuk apa di persulit. Kalau bisa di percepat, untuk apa di perlambat,” demikian salah satu pesan dalam kajian tersebut, yang mendorong penggunaan metode yang lebih praktis dan akurat.
Sebagai catatan, hasil ini masih bersifat prediksi berbasis hisab. Kepastian tanggal Idul Adha akan di umumkan secara resmi oleh pemerintah menjelang masuknya bulan Dzulhijjah.**







