Rupiah Melemah, Pengusaha Mulai Naikkan Harga Barang Secara Bertahap
Jakarta, – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai berdampak pada dunia usaha. Sejumlah pengusaha dilaporkan menaikkan harga barang secara bertahap untuk menjaga kelangsungan bisnis.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Erwin Aksa mengatakan, kenaikan biaya produksi terjadi akibat melemahnya rupiah dan memanasnya konflik di Timur Tengah.
Menurut Erwin, kondisi tersebut memberi tekanan besar terhadap arus kas perusahaan dan margin usaha. Terutama bagi industri yang masih bergantung pada impor bahan baku, komponen, mesin produksi, serta pembayaran dalam dolar AS.
“Dalam kondisi seperti ini, sebagian pelaku usaha mulai melakukan penyesuaian harga jual secara bertahap untuk menjaga keberlangsungan usaha,” ujar Erwin.
Ia menjelaskan, beberapa sektor usaha yang paling terdampak adalah manufaktur, makanan dan minuman, farmasi, tekstil, elektronik, hingga otomotif. Industri-industri tersebut masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor.
Meski demikian, pengusaha juga tidak bisa menaikkan harga terlalu tinggi. Sebab, kondisi daya beli masyarakat saat ini masih menjadi perhatian utama.
“Namun ruang untuk menaikkan harga juga tidak besar karena daya beli masyarakat masih menjadi perhatian,” katanya.
Karena itu, banyak perusahaan memilih melakukan efisiensi operasional untuk mengurangi tekanan biaya. Langkah yang dilakukan antara lain memangkas pengeluaran non-prioritas, melakukan lindung nilai atau hedging, serta meningkatkan penggunaan bahan baku lokal.
Erwin menilai penggunaan produk dalam negeri menjadi salah satu cara untuk mengurangi dampak fluktuasi kurs dolar AS terhadap biaya produksi.
Pelaku usaha berharap nilai tukar rupiah dapat kembali stabil agar aktivitas industri dan distribusi barang tetap berjalan lancar di tengah ketidakpastian ekonomi global.**







