Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd., (Guru Besar UIN STS Jambi)
JAMBI,http://Eksisjambi.com – Pergeseran peradaban global yang ditandai percepatan teknologi dan digitalisasi menempatkan lulusan perguruan tinggi pada posisi yang semakin menantang. Hal ini diuraikan secara mendalam oleh Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd., Guru Besar UIN STS Jambi, dalam tulisan reflektif berjudul “Sarjana Oh Sarjana: Tantangan dan Peluang di Era Global dan Digital.”
Metamorfosis Menuju Entitas Global
Prof. Mukhtar menjelaskan bahwa dunia saat ini tidak sekadar berubah, tetapi telah “bermetamorfosis” menjadi lingkungan tanpa batas fisik. Revolusi Industri 4.0 yang bergerak menuju Society 5.0 menggeser pola hidup, budaya, hingga cara kerja manusia.
Menurutnya, gelar sarjana tidak lagi menjadi jaminan keamanan pekerjaan. “Kompetisi hari ini adalah kompetisi skill dan literasi digital, bukan sekadar kompetisi gelar,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa sarjana harus mampu bertransformasi dari job seeker menjadi value creator. Mereka dituntut mampu memilah relevansi informasi serta bersikap adaptif di tengah disrupsi teknologi yang semakin meluas.
Kompetensi Sarjana di Negara Maju
Dalam perspektif global, standar kompetensi lulusan perguruan tinggi di negara maju telah mengalami perubahan signifikan. Negara-negara anggota OECD kini menekankan pentingnya transversal competencies—mulai dari berpikir kritis, kolaborasi, kelincahan, hingga kemampuan adaptasi.
Prof. Mukhtar mengutip berbagai kajian internasional yang menegaskan bahwa sarjana modern harus memiliki digital fluency, bukan sekadar melek digital. “Mereka tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi mampu menciptakan solusi baru berbasis teknologi,” ujarnya.
Peluang Karier: Negara Maju vs Indonesia
Dalam konteks global, peluang karier sarjana berlangsung dalam ekosistem yang lebih meritokratis. Era gig economy bahkan memungkinkan tenaga kerja lintas negara tanpa batas geografis.
Namun di Indonesia, tantangannya masih besar. Meski kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) telah membuka ruang kolaborasi dengan industri, kesenjangan kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar masih terasa.
“Sarjana kita sering kali kenyang teori namun lapar pengalaman praktis,” kata Prof. Mukhtar.
Padahal, ekonomi digital Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Jika sarjana berhasil memenuhi standar kompetensi global, peluang untuk bersaing bahkan mendominasi pasar terbuka sangat besar.
Dinamika Pengabdian: Sarjana untuk Siapa?
Prof. Mukhtar menegaskan bahwa peran sarjana kini tidak hanya diukur dari kemampuan profesional, tetapi juga kontribusi sosial. Pendidikan tidak boleh terjebak dalam orientasi profit semata, melainkan harus menumbuhkan kepekaan terhadap isu-isu kemanusiaan, ketimpangan, dan perubahan iklim.
“Pengabdian sarjana bukan lagi karitatif, melainkan transformatif,” tulisnya. Sarjana diharapkan mampu menggunakan ilmu pengetahuan untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat melalui teknologi dan jejaring informasi.
Rasio Sarjana dan Lapangan Kerja
Persoalan klasik yang masih terjadi di Indonesia adalah tidak seimbangnya rasio antara jumlah sarjana dan lapangan kerja. Data BPS menunjukkan tingkat pengangguran lulusan universitas masih mengkhawatirkan.
Fenomena over-education but under-skilled menjadi persoalan yang disoroti. Banyak sarjana dihasilkan, namun tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Disrupsi teknologi juga menghilangkan banyak pekerjaan administratif yang sebelumnya menjadi pilihan utama lulusan baru.
Solusinya, menurut Prof. Mukhtar, bukan membatasi jumlah sarjana, tetapi memperkaya ragam kompetensi dan mendorong sarjana menjadi pencipta lapangan kerja.
Penutup
Prof. Mukhtar menegaskan bahwa menjadi sarjana hari ini berarti siap menghadapi persimpangan besar peradaban. “Hanya dengan integritas, kompetensi tinggi, dan literasi digital yang mumpuni, sarjana Indonesia dapat mengubah tantangan global menjadi peluang emas bagi bangsa,” tutupnya.(*)







