Home / Advertorial / Daerah / Nasional / News / Provinsi Jambi

Kamis, 7 Agustus 2025 - 11:37 WIB

SDA ke SDM dan Nilai Tambah, Hilirisasi Menjadi Prioritas

Oplus_131072

Oplus_131072

Oleh: Yulfi Alfikri Noer, S.IP., M.APA kademisi UIN STS Jambi

Jambi,eksisjambi.com – Transformasi ekonomi berbasis hilirisasi resmi menjadi prioritas pembangunan nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Penetapan ini ditegaskan melalui Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025, yang dirilis pada 10 Februari 2025. Dalam peraturan tersebut, hilirisasi industri berbasis sumber daya alam (SDA) masuk dalam delapan prioritas nasional pembangunan, sebagaimana dikemukakan oleh Bappenas.

Kebijakan ini bukan sekadar pendekatan teknokratik, melainkan pijakan strategis untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, dengan menitikberatkan pada penciptaan nilai tambah, daya saing global, dan industrialisasi berkelanjutan. Delapan misi strategis (Asta Cita) dalam RPJMN menjadi kerangka kerja konsolidatif lintas wilayah, termasuk Pulau Sumatera, tempat Provinsi Jambi memiliki posisi penting.

Dalam kajian teknis Bappenas dan Indef (2024), hilirisasi atas komoditas unggulan seperti sawit, nikel, dan karet diposisikan sebagai instrumen pembangunan, bukan semata strategi ekonomi. Tujuannya mencakup penciptaan nilai tambah domestik, pembukaan lapangan kerja berkualitas, serta penguatan fiskal nasional dan daerah.

Provinsi Jambi sendiri tampil sebagai salah satu daerah dengan struktur ekonomi berbasis SDA yang kuat. Namun, selama lebih dari satu dekade, Jambi masih bergulat dalam tantangan mengonversi potensi tersebut menjadi kekuatan industri bernilai tambah tinggi.

Data BPS 2025 menunjukkan bahwa Jambi menyumbang 6,53% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera, dengan pertumbuhan ekonomi year-on-year (Y-on-Y) sebesar 4,55% pada Triwulan I 2025. Walau lebih rendah dari Sumatera Utara (23,57%) dan Riau (23,33%), posisi Jambi sejajar dengan Sumatera Barat dan Kepulauan Riau, menempatkannya sebagai provinsi dengan kontribusi ekonomi menengah.

Baca Juga :  Bawaslu Sungaipenuh, Tidak Temukan Unsur Pelanggaran Twibbon ASN

Tiga sektor utama menopang ekonomi Jambi: Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan  menyumbang 27,36% PDRB Jambi (BPS, 2024), Pertambangan dan Penggalian – menyumbang 22,91%, didominasi batubara dan migas, Industri Pengolahan – menyumbang 14,53%, termasuk CPO dan karet olahan.

 

Namun, struktur ekonomi yang dominan pada komoditas mentah membuat Jambi rentan terhadap fluktuasi pasar global, dan belum menghasilkan efek pengganda terhadap sektor informal, UMKM, dan daerah-daerah dengan SDA terbatas.

Pertumbuhan ekonomi 4,55% menunjukkan stabilitas pascapandemi, namun tidak otomatis berarti inklusif. Ketimpangan spasial antarwilayah di Jambi masih nyata, dengan daerah non-komoditas tertinggal dari pusat-pusat pertumbuhan seperti kawasan tambang dan perkebunan.

Belum optimalnya integrasi rantai pasok serta keterbatasan konektivitas antarwilayah memperlambat transformasi industri. Padahal, secara geografis, Jambi berada di jantung Pulau Sumatera, dan memiliki peluang besar melalui konektivitas Jalan Tol Trans Sumatera.

Menghadapi tantangan ini, diperlukan strategi komprehensif dan kolaboratif. Setidaknya ada lima langkah utama yang harus segera diambil:

1. Hilirisasi berbasis inovasi dan teknologi di sektor pertanian, perkebunan, dan tambang.

2. Reformasi tata kelola investasi dan perizinan untuk memperkuat iklim usaha produktif.

Baca Juga :  Masjid Penuh di Awal Ramadhan "Kalian Dari Mana Saja?" Ini Pesan Menyentuh Untuk Ummat 

3. Konsolidasi fiskal daerah guna meningkatkan efisiensi belanja pembangunan.

4. Peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan vokasi berbasis kebutuhan industri.

5. Akselerasi digitalisasi layanan publik dan ekonomi lokal.

Namun, kelima strategi ini hanya akan efektif jika dijalankan melalui sinergi lintas aktor: pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, akademisi, serta masyarakat sipil.

Momentum pertumbuhan ekonomi Jambi di awal 2025 harus dimaknai sebagai peringatan dini, bukan sekadar capaian. Tanpa restrukturisasi ekonomi yang berani, Jambi akan terus terjebak dalam jebakan ekstraktif: tumbuh tapi tidak merata, kaya sumber daya tapi miskin nilai tambah.

Untuk itu, hilirisasi harus menjadi prioritas nyata, bukan lagi sekadar jargon. Diperlukan keberanian politik, konsistensi teknokratis, dan sinergi kelembagaan untuk mentransformasi ekonomi Jambi menjadi berbasis inovasi, konektivitas, dan daya saing.

Dalam lanskap ekonomi Sumatera yang semakin kompetitif, Jambi tidak boleh hanya menjadi pengikut tren. Ini adalah saat yang tepat untuk menetapkan ulang arah pembangunan: Dari SDA ke SDM, Dari komoditas mentah ke nilai tambah, Dari ekstraksi ke industrialisasi berkelanjutan.

Pertumbuhan 4,55% harus dilihat sebagai titik tolak, bukan garis akhir. Jika dilakukan dengan pendekatan inklusif dan berkelanjutan, hilirisasi dapat menjadi mesin penggerak transformasi ekonomi Jambi menuju masa depan yang lebih adil dan sejahtera. (*)

 

Share :

Baca Juga

Advertorial

Musrenbangdes Desa Sinar Kalimantan 2025, Partisipasi Aktif Masyarakat Untuk Pembangunan Inklusif

Advertorial

Kerahkan Alat Perusahaan, Perbaikan Jalan Menjadi Perhatian Serius Pemdes Pangkal Duri

Daerah

Walikota Ahmadi Zubir Pimpin Apel Perdana

Daerah

Lemang Tapai Jadi Primadona Menu Berbuka Puasa
Tahun Kuda Api 2026: Energi Besar, Peluang Terbuka Lebar

Daerah

Selamat Datang di Tahun Kuda Api 2026: Energi Besar, Peluang Terbuka Lebar
Sekda Tanjung Jabung Barat

Daerah

Sekda Tanjab Barat Ikuti Rakor Monitoring Gerakan Indonesia ASRI

Daerah

Bupati H. Adirozal Hadiri Seminar Nasional Membumikan Nilai Pancasila di IAIN Kerinci.
Parlemen Remaja 2025

Internasional

Parlemen Remaja 2025, Wadah Cetak Generasi Muda Cerdas Politik dan Beretika Digital