Kerinci, Eksisjambi.com – Perang Pulau Tengah tahun 1903 menjadi salah satu episode penting dalam sejarah perlawanan rakyat Kerinci terhadap penjajahan Belanda. Perang yang dipimpin oleh ulama karismatik, Tuan Guru H. Ismail, ini tercatat sebagai perang jihad yang melibatkan ulama, santri, dan masyarakat setempat dalam mempertahankan tanah air dari kolonialisme.
Semua bermula ketika Belanda mencari kawasan dataran tinggi yang cocok untuk perkebunan teh, komoditas yang kala itu sangat di minati di Eropa. Pada 1925, Belanda mendirikan perkebunan teh Kayu Aro melalui perusahaan NV HVA.
Untuk membuka jalan masuk ke Kerinci, Belanda meminta bantuan Sultan Indrapura, Sultan Rusli, agar dapat di terima masyarakat. Namun, kedatangan Belanda justru di tolak karena dianggap sebagai penjajah sekaligus “orang kapa (kafir)”.
Beberapa wilayah berhasil di kuasai Belanda dengan mendirikan markas di Rawang dan Sanggaran Agung, serta pos pengintaian di Jujun dan Semerap. Namun, Pulau Tengah tetap teguh menolak tunduk.
Belanda sempat mengirim utusan agar Pulau Tengah menyerah dalam waktu satu bulan. Menjawab ultimatum itu, Tuan Guru H. Ismail, ulama kharismatik di Masjid Keramat, menggelar rapat akbar bersama para ulama dan pejuang dari Merangin hingga Bangko. Hasilnya, di sepakati satu keputusan: tidak menyerah, melawan dengan jihad fi sabilillah.
Pada Juni 1903, Belanda melancarkan serangan pertama ke Benteng Dusun Baru dan Lubuk Pagar (Batu Basisak). Namun, serangan ini berhasil di pukul mundur pejuang Pulau Tengah.
Belanda tidak tinggal diam dan Hingga Agustus 1903, mereka melancarkan lima gelombang serangan, dengan serangan pamungkas terjadi pada 9 Agustus 1903.
Pasukan gabungan dari Jambi dan Padang bergabung dengan Belanda, menyerang melalui jalur barat, Semerap, menuju Benteng Dusun Baru dan Lubuk Pagar dan Pertempuran sengit pecah.
Pejuang berhasil memberikan perlawanan keras, Bahkan, seorang perwira Belanda, Letnan L.V. Ledeboer, tewas dalam pertempuran pada siang hari, 9 Agustus 1903.
Kehilangan perwira membuat Belanda marah, Komandan Belanda, Kapten Van Der Molen, memerintahkan bumi hangus, Dusun Baru di bakar habis, termasuk lubang persembunyian (parbung) tempat wanita dan anak-anak bersembunyi.
Tragedi ini merenggut lebih dari 300 jiwa perempuan dan anak-anak yang terbakar hidup-hidup. Namun, meski mengalami luka besar, perlawanan belum berakhir, Pejuang Pulau Tengah masih melanjutkan perjuangan lewat serangan gerilya malam hari terhadap pos-pos Belanda.
Dan inilah Tokoh Perlawanan perang di pulau tengah dan kerinci Panglima dan Imam Perang: Tuan Guru H. Ismail, Benteng Koto Putih: Bilal Sengak, H. Mesir, Khatib Manawi, H. Sutan, Mat Pekat.
Benteng Dusun Baru & Batu Basisak : Depati Gayur, Depati Mudo, Rio Tino, Rio Jenang, Mat Salah, Mat Rakat
Benteng Danau Kerinci: Patimah Jurai (Srikandi Pulau Tengah), Tarano, Benteng Masjid Keramat: Tuan Guru H. Ismail, H. Husin
Komandan Belanda : Kapten Van Der Molen, Kapten De Gaay Fortman, Letnan G.R. Brouwers, Letnan L.V. Ledeboer (gugur)
Perang Pulau Tengah bukan sekadar perlawanan fisik, tetapi juga simbol jihad rakyat Kerinci mempertahankan martabat, tanah, dan keyakinan mereka. Meski akhirnya Belanda berhasil menguasai Pulau Tengah, semangat perjuangan tidak pernah padam dan tetap di kenang hingga kini.(*)







