EksisJambi.com- Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia hingga April 2025 telah mencapai 431,5 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 7.036,51 triliun, berdasarkan kurs Rp 16.307 per dolar AS. Meski angkanya terbilang tinggi, BI menyebutkan bahwa kondisi ULN Indonesia masih terkendali dan berada dalam struktur yang sehat.
Dalam laporan resmi yang dirilis pada Senin (16/6/2025), BI mencatat bahwa ULN Indonesia tumbuh sebesar 8,2 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatat angka 6,4 persen yoy, menandakan peningkatan aktivitas pembiayaan dari luar negeri, terutama oleh sektor pemerintah.
Dari total utang luar negeri tersebut, ULN pemerintah menyumbang 208,8 miliar dolar AS, atau mengalami kenaikan 10,4 persen yoy. Kenaikan ini disebabkan oleh penarikan pinjaman luar negeri untuk mendukung pembiayaan anggaran negara, serta penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ke pasar global.
Sebaliknya, ULN swasta tercatat sebesar 194,8 miliar dolar AS, yang mengalami kontraksi sebesar 0,6 persen yoy. Meskipun masih negatif, kontraksi ini menunjukkan tren perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatat kontraksi lebih dalam sebesar 1,0 persen yoy.
BI menekankan bahwa struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat, ditandai dengan dominasi utang jangka panjang yang mencapai 87 persen dari total ULN. Hal ini dinilai penting karena utang jangka panjang memberikan ruang yang lebih luas bagi stabilitas fiskal dan pengelolaan risiko.
“Struktur ULN Indonesia tetap sehat dan terkendali, ditunjukkan oleh dominasi ULN jangka panjang yang mencapai 87,0 persen dari total ULN,” tulis BI dalam keterangannya.
Bank Indonesia juga menegaskan bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan pengelolaan utang luar negeri dilakukan secara hati-hati dan terukur. Tujuannya adalah untuk mendukung pembiayaan pembangunan nasional, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan sektor eksternal Indonesia.
Meskipun jumlah utang luar negeri terus meningkat, pemerintah dan BI tampak tetap optimis bahwa posisi Indonesia masih berada di jalur yang aman, selama pengelolaannya dilakukan secara bertanggung jawab dan transparan.(*)







