Cirebon, http://Eksisjambi.com– Dunia spiritual Nusantara kembali di ramaikan dengan kemunculan informasi mengenai keberadaan Asma Raja Dirajeh (RDR) Versi Cirebon, sebuah ilmu rajah yang di sebut sebagai salah satu ajian paling langka dan paling di rahasiakan dalam tradisi keilmuan luhur di Jawa dan Madura.
Asma ini di klaim memiliki garis silsilah yang berhubungan dengan dua tokoh besar: Mbah Wali Bujuk Tumpeng dari Madura serta Mbah Prabu Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana, pendiri Kesultanan Cirebon.
Meski demikian, menurut keterangan pihak yang mengaku sebagai pewarisnya, asma’ tersebut tidak pernah sekalipun diijazahkan secara terbuka bahkan oleh keturunan langsung kedua tokoh tersebut.
Namun, kini sebuah pernyataan mengejutkan muncul: ilmu Asma Raja Dirajeh dikatakan siap diijazahkan kepada pihak yang benar-benar serius merawat, menjaga, dan mengamalkannya. Ijazah tersebut, menurut sumber, diberikan semata-mata di jalan Allah dan bukan untuk tujuan komersial.
Dalam keterangan yang di sampaikan, Asma RDR Versi Cirebon digambarkan sebagai mustikanya seluruh ilmu rajeh, bahkan di sebut sebagai warisan spiritual yang bersumber dari Nabi Khidir AS, sosok penting dalam berbagai tradisi tarekat dan keilmuan kebatinan.
Ilmu ini di klaim sebagai puncak tertinggi ilmu rajeh, memiliki pengaruh terhadap seluruh ajian dan kekuatan serupa di Nusantara.
“Semua kekuatan ilmu Asma’ Sunge Rajeh maupun seluruh ilmu rajeh akan tunduk kepada pemilik ilmu ini…” demikian pernyataan yang di sampaikan.
Bahkan, di katakan pula bahwa pemilik ajian ini mampu melumpuhkan musuh hanya dengan menunjuk jari, serta menyerap atau menetralkan kemampuan ilmu rajeh yang digunakan untuk kejahatan.
Tidak hanya itu, kekuatan asma tersebut digambarkan setara dengan kekuatan seluruh bangsa manusia dan jin di muka bumi klaim yang tentu tak dapat di verifikasi secara ilmiah, namun menjadi bagian dari keyakinan masyarakat spiritual tertentu.
Selain aspek kesaktian, Asma Raja Dirajeh di sebut memiliki 1001 manfaat, mulai dari perlindungan, kewibawaan, hingga pengasihan. Beberapa manfaat yang di sebutkan antara lain:
- Kekebalan fisik (senjata tajam, tumpul, api, cekikan, cambuk, dll)
- Kharisma dan kewibawaan tingkat tinggi
- Pengasihan umum dan khusus
- Menambah keberanian dan tenaga
- Menundukkan lawan atau musuh
- Pukulan maut dan pukulan jarak jauh
- Perlindungan ketika dikeroyok atau dalam peperangan
- Anti gendam, hipnotis, serta gangguan gaib
- Pawang hujan dan pengendalian cuaca
- Perlindungan dari santet, guna-guna, tenung
- Kemampuan “panglimunan” (menghilang) atau terlihat besar di mata musuh
Daftar manfaat tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan yang telah lama berkembang di masyarakat, meskipun tidak memiliki dasar ilmiah.
Pewaris ilmu menyatakan bahwa lafadz mantra dari Asma RDR tidak boleh ditulis. Ijazahnya hanya boleh di sampaikan melalui lisan, sesuai pantangan ketentuan dan silsilah asli.
“Kunci Asma’ Rajeh/Raja/Rajah masih aku rahasiakan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa proses ijazah harus di lakukan secara tatap muka dan tidak dapat di bagikan melalui tulisan, media sosial, maupun rekaman.
Dalam versi Cirebon, Asma RDR di katakan memiliki 26 kegunaan utama, di antaranya:
1. Pagar badan dan kekebalan
2. Ilmu keselamatan
3. Penglarisan usaha
4. Selamat dari pengeroyokan
5. Menghilang dari musuh
6. Mahabbah umum maupun khusus
7. Kekuatan fisik
8. Kemudahan naik jabatan
9. Disayang atasan
10. Di takuti makhluk halus
11. Selamat dari razia
12. Mengendalikan angin
13. Memindahkan hujan
14. Menguatkan benda bertuah
15. Menghancurkan musuh dari jarak jauh
16. Meredam amarah orang
17. Pukulan maut
18. Menangkal sihir dan guna-guna
19. Menetralisir tempat angker
20. Menangkan perkara hukum
21. Mengisi kekebalan untuk orang lain
22. Mengusir tamu tak diundang
23. Memiliki khodam tingkat tinggi
24. 1001 hajat
25. Mendapatkan seluruh keilmuan perguruan lain
26. Digunakan sesuai niat baik
Meski di katakan tidak diperjualbelikan, pewaris menegaskan bahwa penerimaan ilmu tetap melalui mahar, namun hanya sebatas “mas kawin” sebagai bentuk penghormatan dalam proses ijazah.
Fenomena ajian, asma’, dan rajah semacam ini merupakan bagian dari kekayaan budaya spiritual Nusantara. Meski klaim kesaktian tidak dapat diuji secara ilmiah, kehadirannya tetap menjadi bagian dari kepercayaan lokal yang di wariskan turun-temurun.
Hingga kini, belum ada konfirmasi dari lembaga budaya atau tokoh keluarga keturunan Cakrabuana dan Bujuk Tumpeng terkait klaim pewarisan ilmu ini. Namun minat masyarakat terhadap tradisi keilmuan lama memang terus bertahan di tengah modernisasi.(*)







