JAMBI, http://Eksisjambi.com – Amalan puasa sunah kembali menjadi perbincangan di tengah masyarakat Muslim. Salah satunya adalah Puasa Hari Lahir, yang diyakini sebagian kalangan sebagai ikhtiar spiritual untuk membuka hijab kesulitan hidup, mempermudah hajat, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Puasa Hari Lahir merujuk pada puasa sunah yang dilakukan pada hari kelahiran seseorang, baik Ahad hingga Sabtu. Landasan amalan ini sering dikaitkan dengan hadits riwayat Muslim, ketika Nabi Muhammad SAW ditanya alasan beliau berpuasa sunah pada hari Senin. Rasulullah SAW menjawab bahwa hari tersebut adalah hari kelahiran beliau sekaligus hari pertama turunnya wahyu.
“Puasa adalah ibadah yang sangat personal antara hamba dan Allah. Dalam keadaan berpuasa, nafsu menjadi tunduk sehingga doa dan munajat diharapkan lebih khusyuk dan murni,” demikian dijelaskan dalam ijazah amalan Puasa Hari Lahir yang disampaikan oleh Gus Kandias Sirull Ghuyub, sebagaimana diterima redaksi.
Dalam penjelasannya, Gus Kandias menyebutkan bahwa Puasa Hari Lahir telah diamalkan untuk berbagai tujuan, mulai dari penyelesaian masalah ekonomi, kesehatan, keharmonisan rumah tangga, hingga urusan pekerjaan.
Beberapa kisah yang disampaikan di antaranya terkait kesembuhan anak yang sakit, pelunasan hutang, kelancaran rezeki usaha, hingga terbukanya pintu pekerjaan setelah lama menganggur. Amalan ini juga dikatakan dapat dilakukan oleh orang tua untuk anak, suami untuk istri, maupun sebaliknya, dengan niat semata-mata karena Allah SWT.
“Segala sesuatu dalam hidup telah tertulis dalam Kitab Induk. Namun sebelum ketetapan itu terjadi, manusia diberi ruang untuk berdoa dan memohon agar takdir yang buruk diganti dengan yang lebih baik,” ujarnya.
Puasa Hari Lahir dilakukan sesuai hari kelahiran masing-masing dengan jumlah tertentu yang disebut berasal dari ijazah para auliya terdahulu:
Ahad: 5 kali puasa pada hari Ahad
Isnin (Senin): 4 kali puasa pada hari Senin
Selasa: 3 kali puasa pada hari Selasa
Rabu: 7 kali puasa pada hari Rabu
Khamis (Kamis): 8 kali puasa pada hari Kamis
Jumaat (Jumat): 6 kali puasa pada hari Jumat
Sabtu: 9 kali puasa pada hari Sabtu
Pada malam sebelum berpuasa, dianjurkan mandi sunat taubat, berwudu, lalu melaksanakan salat sunat taubat dan salat sunat syukur masing-masing dua rakaat. Niat puasa dipasang di dalam hati karena Allah Ta’ala.
Niat Puasa:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ لِقَضَاءِ حَاجَتِی سُنَةً لِلّٰهِ تَعَالَی
Artinya: Aku berniat puasa agar terlaksana hajatku, sunah karena Allah Ta’ala.
Pada separuh malam, dianjurkan melaksanakan salat hajat dan menyampaikan doa yang diinginkan. Setelah seluruh rangkaian puasa selesai, pelaku puasa dianjurkan mewakafkan mushaf Al-Qur’an atau surat Yasin ke masjid atau surau sesuai jumlah hari puasa yang dikerjakan.
Bagi kaum Muslimah yang berhalangan, puasa ini tidak harus dilakukan berturut-turut, namun tetap diselesaikan sesuai jumlah yang ditetapkan.
Amalan ini disampaikan sebagai ijazah umum, dengan lafaz penyerahan ilmu secara ikhlas karena Allah Ta’ala. Penerima ijazah cukup menjawab, “Saya terima karena Allah Ta’ala.”
“Setelah selesai berpuasa, bersabarlah. InsyaAllah pertolongan Allah akan datang pada waktu terbaik-Nya,” pesan Gus Kandias.
Amalan ini diharapkan menjadi sarana memperkuat keimanan, memperbanyak ikhtiar spiritual, serta mengingatkan umat Islam agar senantiasa bersandar kepada Allah SWT dalam setiap persoalan hidup.
Salam Raja Tanpa Mahkota, Hidup Sosial Akan Jadi Spesial. Barakallahu fikum wa umurikum. (*)







