Eksisjambi.com – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau ANTAM membukukan kinerja keuangan cemerlang pada paruh pertama 2025.
Perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor pertambangan itu berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 5,14 triliun, naik 240 persen di bandingkan semester I 2024 yang hanya mencapai Rp 1,51 triliun. Capaian ini sekaligus menjadi salah satu rekor laba terbaik sepanjang sejarah perusahaan.
Pertumbuhan signifikan laba bersih tersebut di topang oleh kinerja gemilang dari segmen nikel dan logam mulia.
Dari sisi nikel, kontribusi laba tercatat meroket menjadi Rp 3,53 triliun, jauh di atas periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 148,10 miliar.
Dari sisi operasional, produksi bijih nikel ANTAM meningkat 117 persen menjadi 9,10 juta wet metric ton (wmt). Volume penjualan pun melonjak 144 persen hingga mencapai 8,20 juta wmt. Bahkan pada kuartal II 2025, perusahaan menorehkan rekor penjualan bijih nikel triwulanan tertinggi sepanjang sejarahnya.
Meski nikel menjadi motor utama, emas tetap menjadi pilar bisnis penting bagi ANTAM. Penjualan emas pada semester I 2025 tercatat Rp 49,54 triliun, melonjak 163 persen di bandingkan tahun sebelumnya, Kontribusi emas terhadap total penjualan perusahaan bahkan mencapai 84 persen.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko ANTAM, Arianto Sabtonugroho Rudjito, menyatakan bahwa capaian spektakuler ini merupakan buah dari konsistensi strategi jangka panjang perusahaan.
“Pertumbuhan laba yang kami capai tidak hanya bersifat jangka pendek, melainkan hasil dari penerapan strategi yang terukur dan berkesinambungan. ANTAM akan terus memperkuat posisi di pasar nikel global sekaligus mempertahankan peran emas sebagai kontributor utama penjualan,” ungkap Arianto dalam keterangan resminya.
Dengan capaian tersebut, ANTAM semakin mengukuhkan diri sebagai salah satu pemain kunci di industri pertambangan nasional, sekaligus memperbesar peluang untuk meningkatkan daya saing di pasar global, terutama di tengah meningkatnya permintaan nikel untuk baterai kendaraan listrik dan logam mulia sebagai aset lindung nilai.(*)







