Eksisjambi.com — Masyarakat seringkali dihadapkan pada benturan keras antara dua pilihan: kehidupan atau aturan. Di tengah himpitan ekonomi dan upaya menggapai masa depan yang lebih baik, mereka seringkali terpaksa melakukan hal yang secara hukum dianggap salah.
Bagi masyarakat kelas ekonomi bawah, mereka tidak memiliki modal sumber daya yang berharga. Yang mereka miliki hanyalah tenaga dan keringat yang harus diperas hanya demi sesuap nasi. Belum lagi persoalan dapur yang tak kunjung henti, ditambah tuntutan membiayai sekolah anak-anak. Semua itu menjadi beban berat yang harus dipikul setiap harinya.
Realita ini sangat terasa di pelosok negeri, khususnya di kawasan Bumi Tali Undang Tambang Teliti, Kabupaten Merangin. Di sini, masyarakat dihadapkan pada sebuah dilema yang pelik. Di satu sisi, mereka terancam oleh peraturan dan undang-undang. Namun di sisi lain, mereka terdesak oleh tuntutan ekonomi demi keberlangsungan hidup keluarga.
Ironisnya, upaya bertahan hidup ini meninggalkan jejak yang mendalam. Air sungai yang semula jernih kini berubah warna dan bercampur lumpur. Permukaan tanah banyak yang berubah menjadi kolam-kolam tak beraturan, sementara hutan-hutan kini menganga gundul tanpa tumbuhan. Kerusakan lingkungan itu nyata, namun bagi mereka, pilihan itu sangat berat.
Demi menyambung nyawa istri dan anak-anak, mereka rela bekerja mencari emas meski harus dicap sebagai pelaku Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Namun, pertanyaan besar selalu menghantui: jika mereka mematuhi aturan sepenuhnya dan berhenti bekerja, lalu siapa yang akan menanggung makan mereka? Siapa yang akan peduli jika beras di rumah habis? Siapa yang akan membiayai sekolah anak-anak mereka jika mereka tak punya uang?. Sedangkan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak bak umpama mencari sepotong jarum di tengah gurun sahara. Jika pun ada, pekerjaan itu hanya bakal di dapat oleh kelurga para penguasa serta kroni-kroninya.
Di mata mereka yang hidup berkecukupan dan membuat aturan, mungkin mereka dipandang sebagai penjahat atau perusak alam. Namun bagi masyarakat jelata, mereka bukanlah penjahat, melainkan pejuang keluarga.
Ada kalimat pedas yang terlontar dari bibir masyarakat pinggiran: “Dari kegiatan yang dianggap ‘salah’ ini, ternyata tercipta ribuan lapangan kerja. Lalu, mereka yang memberi label ‘salah’ tersebut, sudah berapa banyakkah peluang kerja yang mereka berikan?”Sedangkan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak saat ini bak umpama mencari sepotong jarum di tengah gurun sahara. Jika pun ada, pekerjaan itu hanya bakal di dapat oleh kelurga para penguasa serta kroni-kroninya.
Seperti ibarat dalam permainan catur, kondisi ini disebut “Skak, Ster”—terjepit di antara dua situasi yang sama-sama sulit, antara hukum yang harus ditegakkan dan nyawa yang harus disambung.
Masyarakat tidak butuh dihakimi. Mereka butuh solusi nyata agar tidak terus-menerus terjepit antara mematuhi aturan atau membiarkan keluarga kelaparan, sekaligus menjaga agar alam tempat mereka tinggal tetap lestari. *Bas R*







