JAKARTA, – Entitas investasi nasional Danantara Indonesia bersiap mengumumkan pemenang mitra strategis untuk proyek Waste to Energy (WtE) tahap pertama atau Batch 1 yang akan di bangun di empat lokasi prioritas di Indonesia. Proyek ini menjadi bagian dari langkah strategis pemerintah dalam mengatasi krisis pengelolaan sampah sekaligus menghasilkan energi alternatif.
Empat lokasi yang masuk dalam tahap awal proyek tersebut yakni Bali (Denpasar), Bekasi, Bogor melalui Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, serta Yogyakarta melalui TPA Piyungan. Pengumuman pemenang mitra strategis di jadwalkan akan di lakukan pada pertengahan Maret 2026.
Proyek Waste to Energy di Bali menjadi fokus utama pemerintah. Hal ini menyusul instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto yang meminta percepatan penanganan masalah sampah di wilayah tersebut.
Lokasi proyek berada di TPA Suwung yang selama ini di kenal menghadapi persoalan lingkungan cukup serius akibat volume sampah yang terus meningkat.
Pemerintah menilai kondisi di Bali sudah masuk kategori mendesak sehingga pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi perlu di prioritaskan agar dampak lingkungan dapat segera di tangani.
Dalam tahap pertama proyek ini, mitra strategis yang di pilih di perkirakan berasal dari perusahaan asal China. Perusahaan tersebut di nilai memiliki teknologi serta pengalaman yang memungkinkan pembangunan fasilitas WtE di lakukan dengan cepat.
Target konstruksi yang di tetapkan cukup ambisius, yakni sekitar 18 hingga 20 bulan sejak proyek di mulai. Dengan target tersebut, pemerintah berharap fasilitas pengolahan sampah menjadi energi dapat segera beroperasi dan memberikan dampak nyata bagi pengelolaan sampah di daerah.
Beberapa lokasi yang masuk dalam tahap pertama pengembangan proyek WtE antara lain:
- Denpasar, Bali – TPA Suwung
- Bekasi, Jawa Barat
- Bogor, Jawa Barat – TPA Galuga
- Yogyakarta – TPA Piyungan
Keempat lokasi tersebut di pilih karena menghadapi tekanan kapasitas pengelolaan sampah yang tinggi serta memiliki potensi besar untuk pengembangan teknologi konversi sampah menjadi energi.
Setelah tahap pertama berjalan, proyek Waste to Energy akan di lanjutkan ke Batch 2 yang di jadwalkan mulai di proses setelah Lebaran 2026.
Pada tahap kedua ini, fokus pengembangan akan di arahkan ke wilayah Tangerang Raya, yang juga menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah perkotaan.
Berbeda dengan Batch 1, pemerintah juga berencana membuka peluang kerja sama dengan penyedia teknologi dari kawasan Uni Emirat Arab serta beberapa negara di Eropa untuk memperluas opsi teknologi dan investasi.
Langkah pengembangan proyek Waste to Energy ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menjawab krisis pengelolaan sampah nasional yang semakin mendesak di berbagai kota besar.
Dengan mengubah sampah menjadi sumber energi, pemerintah berharap dapat menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, berkelanjutan, serta memberikan manfaat ekonomi.
Selain itu, proses pemilihan mitra strategis di lakukan dengan prinsip transparansi dan efisiensi investasi, sehingga proyek dapat berjalan optimal sekaligus memberikan keuntungan bagi pemerintah daerah, investor, dan masyarakat.**







