Jambi, http://Eksisjambi.com – Provinsi Jambi selama ini dikenal sebagai daerah agraris dengan potensi sumber daya alam yang melimpah. Namun di balik kekuatan tersebut, sistem ketahanan pangan di wilayah ini masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar, terutama dalam hal kemandirian produksi dan efisiensi distribusi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa rasio produksi terhadap kebutuhan pangan di Jambi masih berada pada angka 59,9 persen dalam beberapa tahun terakhir. Angka ini mengindikasikan bahwa kebutuhan pangan masyarakat belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi lokal, sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah masih cukup tinggi.
Di sisi lain, sektor pertanian Jambi sebenarnya memiliki fondasi yang kuat. Produksi padi pada tahun 2024 tercatat mencapai sekitar 281 ribu ton gabah kering giling, yang dihasilkan dari lebih dari 61 ribu hektare lahan pertanian. Selain padi, komoditas unggulan seperti kelapa sawit, karet, kopi, dan hortikultura juga berkembang pesat di berbagai kabupaten.
Meski demikian, persoalan utama tidak hanya terletak pada produksi, melainkan pada distribusi dan efisiensi rantai pasok. Dinas Pertanian mencatat keterbatasan teknologi dan kualitas sumber daya manusia sebagai hambatan dalam meningkatkan produktivitas. Sementara itu, sekitar 12 hingga 15 persen hasil panen hortikultura terbuang setiap tahun akibat kendala distribusi. Hal ini mencerminkan adanya inefisiensi yang berdampak pada keterjangkauan pangan bagi masyarakat.
Dalam kerangka ketahanan pangan, terdapat tiga pilar utama yang menjadi acuan, yaitu ketersediaan, akses, dan pemanfaatan pangan. Dari ketiga aspek tersebut, Jambi masih menghadapi tantangan signifikan, khususnya pada aspek distribusi dan daya beli masyarakat.
Tekanan eksternal juga turut memengaruhi kondisi pangan daerah. Peningkatan impor pangan dalam beberapa tahun terakhir telah menekan harga komoditas lokal di pasar domestik. Dampaknya, pendapatan petani cenderung menurun dalam jangka pendek, dan berpotensi melemahkan struktur produksi lokal dalam jangka panjang.
Namun demikian, secara geografis Jambi memiliki posisi yang sangat strategis di Pulau Sumatera. Letaknya yang berada di jalur penghubung antarprovinsi memberikan peluang besar untuk menjadi pusat distribusi pangan regional. Pembangunan infrastruktur, termasuk Jalan Tol Trans-Sumatera, diharapkan mampu menekan biaya logistik sekaligus mempercepat arus distribusi barang.
Di tingkat regional, masing-masing provinsi di Sumatera memiliki keunggulan tersendiri. Sumatera Barat dikenal memiliki indeks ketahanan pangan yang tinggi, Lampung sebagai salah satu lumbung pangan nasional, dan Sumatera Selatan dengan basis produksi yang luas. Dalam konteks ini, Jambi berpotensi menjadi simpul penghubung yang memperkuat integrasi sistem pangan antarwilayah.
Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan langkah strategis yang terintegrasi. Pemerintah daerah dapat mendorong kerja sama produksi antarprovinsi, memperkuat sistem distribusi antara daerah surplus dan defisit, serta mengembangkan industri pengolahan berbasis komoditas lokal guna meningkatkan nilai tambah.
Selain itu, pemanfaatan teknologi modern dalam sektor pertanian menjadi kunci peningkatan produktivitas. Mekanisasi, digitalisasi, serta penerapan pertanian presisi perlu diperluas. Penguatan kelembagaan petani melalui koperasi modern juga penting untuk meningkatkan posisi tawar dalam rantai nilai.
Hilirisasi industri pangan turut menjadi faktor penting dalam memperkuat ketahanan pangan. Produk olahan memiliki daya simpan lebih lama dan nilai ekonomi yang lebih tinggi, sehingga dapat menjaga stabilitas pasokan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Di sisi lain, kebijakan pangan perlu disinergikan dengan kebijakan kesejahteraan masyarakat. Daya beli menjadi faktor krusial dalam akses terhadap pangan. Oleh karena itu, penciptaan lapangan kerja dan kebijakan sosial yang tepat sasaran menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya memperkuat ketahanan pangan.
Dengan potensi sumber daya yang melimpah dan posisi geografis yang strategis, Provinsi Jambi memiliki peluang besar untuk bertransformasi dari daerah yang bergantung menjadi kekuatan utama dalam sistem pangan regional Sumatera. Melalui kebijakan yang tepat, sinergi antarwilayah, serta pemanfaatan teknologi, Jambi dapat memainkan peran penting dalam menentukan arah ketahanan pangan di masa depan.
Oleh:
- Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S (Pakar Ekonomi dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi)
- Dr. Rosmeli, S.E., M.E (Sekretaris Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Jambi)**







