Jambi,http://Eksisjambi.com – Isu pangan kembali menjadi sorotan strategis dalam pembangunan daerah, seiring upaya Pemerintah Provinsi Jambi menyelaraskan kebijakan lokal dengan agenda nasional menuju Indonesia Emas 2045. Pangan tidak lagi dipandang sekadar komoditas ekonomi, melainkan fondasi utama keberlangsungan hidup, stabilitas sosial, hingga martabat suatu daerah.
Pandangan tersebut mengemuka dalam tulisan analitis yang disampaikan oleh Dr. Fahmi Rasid, yang menekankan pentingnya kemandirian pangan sebagai basis pembangunan berkelanjutan.
Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pertanian Jambi menunjukkan tren positif. Data Badan Pusat Statistik mencatat luas panen padi meningkat signifikan, dari sekitar 61.240 hektare pada 2023 menjadi 80.710 hektare pada 2025. Sejalan dengan itu, produksi padi naik dari 275.940 ton Gabah Kering Giling (GKG) menjadi 366.540 ton.
Produksi beras juga mengalami peningkatan dari 159.620 ton menjadi sekitar 212.030 ton dalam periode yang sama. Namun demikian, capaian tersebut belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan daerah.
Pada 2025, produksi beras Jambi baru mencukupi sekitar 77 persen konsumsi masyarakat. Artinya, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah masih menjadi tantangan yang harus di atasi.
Komitmen memperkuat sektor pangan ditegaskan dalam Rapat Perdana Tenaga Ahli Gubernur (TAG) Tahun 2026 yang digelar di Bappeda Provinsi Jambi, Senin (6/4/2026).
Gubernur Jambi, Al Haris, menyatakan kesiapan daerahnya untuk mendukung berbagai program strategis nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan sekolah rakyat, dan pengembangan koperasi merah putih.
Program MBG, misalnya, dinilai membutuhkan dukungan produksi pangan lokal yang kuat agar tidak menimbulkan tekanan baru pada rantai pasok. Sementara itu, sekolah rakyat dan peningkatan kualitas pendidikan juga sangat bergantung pada terpenuhinya kebutuhan gizi masyarakat.
Penguatan koperasi menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun kemandirian pangan. Koperasi dinilai mampu mempersingkat rantai distribusi, meningkatkan kesejahteraan petani, serta menciptakan sistem ekonomi yang lebih adil.
Dalam konteks ini, kemandirian pangan tidak hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga distribusi, akses, dan konsumsi masyarakat.
Meski memiliki potensi besar, Jambi masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar. Alih fungsi lahan pertanian yang terus terjadi menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan produksi pangan.
Selain itu, keterbatasan infrastruktur irigasi menyebabkan sebagian lahan masih bergantung pada curah hujan, sehingga produktivitas belum optimal. Tantangan lain yang tak kalah penting adalah regenerasi petani.
Mayoritas petani saat ini berada pada usia lanjut, sementara minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian masih rendah. Jika tidak segera diantisipasi, kondisi ini berpotensi menimbulkan krisis tenaga kerja di sektor pertanian.
Kepemimpinan yang kuat dan kolaboratif menjadi kunci dalam menjawab berbagai tantangan tersebut. Pemerintah daerah dituntut tidak hanya merumuskan kebijakan, tetapi juga mampu menggerakkan seluruh potensi yang ada, mulai dari dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat.
Perguruan tinggi dapat berperan dalam pengembangan teknologi pertanian, dunia usaha dalam memperkuat distribusi, dan masyarakat dalam mendorong konsumsi pangan lokal.
Penggunaan data berbasis metode Kerangka Sampel Area (KSA) dari BPS menjadi instrumen penting dalam merumuskan kebijakan yang tepat sasaran. Pendekatan berbasis data dinilai lebih efektif dibandingkan kebijakan yang bersifat asumtif.
Dengan potensi wilayah yang luas, kondisi geografis yang mendukung, serta komitmen pemerintah daerah, Jambi dinilai memiliki peluang besar untuk mencapai kemandirian pangan.
Pada akhirnya, kemandirian pangan bukan sekadar target pembangunan, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan daerah. Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi dari kemampuan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
“Ketika urusan perut telah terpenuhi, maka manusia memiliki ruang untuk berpikir, bekerja, dan membangun peradaban,” demikian penegasan dalam tulisan tersebut.**







