Kerinci, http://Eksisjambi.com – Di balik keindahan alam kawasan Desa Lempur, Kabupaten Kerinci, Jambi, tersimpan sebuah danau yang hingga kini masih di selimuti kisah misteri dan kearifan lokal. Danau Lingkat, yang berada di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), dikenal bukan hanya karena panorama alamnya, tetapi juga legenda turun-temurun mengenai hilangnya seorang gadis desa secara gaib.
Cerita tersebut telah menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat adat Lempur dan terus dijaga sebagai pengingat pentingnya menghormati alam serta adat istiadat setempat.
Legenda Gadis Hilang yang Menjadi Asal Nama Danau
Menurut cerita masyarakat, kisah bermula sekitar abad ke-16 ketika seorang gadis dari Desa Selampaung menghilang secara misterius saat menaiki perahu di Danau Lingkat.
Warga yang panik kemudian melakukan pencarian besar-besaran. Berdasarkan petunjuk yang diperoleh seorang tetua adat melalui mimpi, gadis tersebut diyakini telah dibawa oleh makhluk gaib yang dipercaya menjadi penunggu kawasan pegunungan.
Dalam upaya menemukan sang gadis, masyarakat bergotong royong menimba air danau menggunakan wadah anyaman bambu atau rantang bertingkat yang disebut lingkat. Meski usaha tersebut tidak berhasil menemukan korban, peristiwa itulah yang kemudian melahirkan nama Danau Lingkat.
Air Hijau Pekat yang Menambah Aura Mistis
Berbeda dengan Danau Kaco yang terkenal dengan air birunya yang jernih, Danau Lingkat memiliki warna air hijau pekat yang tampak tenang namun menghadirkan suasana misterius.
Keberadaannya di tengah rimbunnya hutan tropis TNKS semakin memperkuat kesan alami sekaligus mistis yang dirasakan para wisatawan saat berkunjung.
Panorama tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta wisata alam dan fotografi, meski masyarakat setempat selalu mengingatkan agar pengunjung tetap menghormati aturan adat yang berlaku.
Larangan Menggunakan Perahu
Sejak peristiwa hilangnya gadis dalam legenda tersebut, masyarakat adat menetapkan pantangan keras untuk mengarungi Danau Lingkat menggunakan perahu kayuh tradisional.
Larangan ini dipercaya sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus upaya mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Hingga kini, aturan tersebut masih dipatuhi oleh masyarakat maupun wisatawan yang datang ke kawasan danau.
Bagi masyarakat adat Desa Lempur, kisah misteri Danau Lingkat bukan sekadar cerita mistis, melainkan sarana untuk menanamkan nilai-nilai pelestarian lingkungan.
Pengunjung diimbau agar tidak berkata kasar, bersikap sombong atau takabur, membuang sampah sembarangan, maupun merusak vegetasi di sekitar danau.
Kearifan lokal tersebut diyakini menjadi salah satu alasan kawasan Danau Lingkat tetap terjaga keasrian dan kelestarian ekosistemnya hingga saat ini.
Selain menawarkan keindahan alam pegunungan yang masih alami, Danau Lingkat juga menjadi destinasi wisata budaya karena erat kaitannya dengan tradisi masyarakat adat Lempur.
Bagi wisatawan yang berkunjung, pengalaman menikmati suasana hutan, udara sejuk, serta mendengar langsung kisah legenda dari warga setempat menjadi daya tarik tersendiri yang sulit ditemukan di tempat lain.
Keberadaan Danau Lingkat membuktikan bahwa alam, sejarah, budaya, dan kepercayaan lokal dapat hidup berdampingan sebagai bagian dari identitas masyarakat Kerinci yang patut dijaga dan dilestarikan.**







