Jakarta, http://Eksisjambi.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 berpotensi berlangsung lebih lama di bandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, hujan yang masih turun di sejumlah wilayah Indonesia saat ini di nilai sebagai fenomena yang wajar dalam masa peralihan musim.
Kondisi cuaca yang masih kerap di guyur hujan di tengah isu kemunculan El Nino bahkan memunculkan pertanyaan publik. Terlebih, istilah “El Nino Godzilla” yang belakangan ramai di bahas semakin menambah kekhawatiran masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, dosen dari IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa Indonesia saat ini masih berada dalam fase pancaroba atau peralihan musim, sehingga pola cuaca belum stabil dan berbeda-beda di tiap wilayah.
“Awal musim kemarau di Indonesia tidak terjadi secara serentak. Karena masih pancaroba, hujan yang turun saat ini adalah hal yang normal,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Ia menegaskan bahwa turunnya hujan tidak berarti prediksi kemarau panjang keliru. Justru, sejumlah indikator menunjukkan adanya kecenderungan menuju musim kering yang lebih panjang, salah satunya adalah peningkatan suhu muka laut di wilayah Pasifik.
Menurutnya, kenaikan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur menjadi sinyal awal berkembangnya fenomena El Nino. Fenomena ini di kenal dapat mengurangi curah hujan di Indonesia, khususnya saat periode musim hujan.
Berdasarkan analisis BMKG, musim kemarau tahun ini di perkirakan bisa berlangsung hingga sekitar enam bulan. Bahkan, awal kemarau di prediksi datang lebih cepat, terutama di wilayah Pulau Jawa yang biasanya memasuki musim kering pada bulan Juli.
“Awal musim kemarau berpotensi maju dari waktu normal. Ini berkaitan dengan meningkatnya suhu muka laut di Pasifik yang mengurangi pembentukan awan di wilayah Indonesia,” jelasnya.
Lebih lanjut, Sonni memaparkan bahwa El Nino dan La Nina merupakan hasil interaksi kompleks antara laut dan atmosfer yang memengaruhi pola sirkulasi udara global, khususnya Sirkulasi Walker.
Ia menjelaskan bahwa Sirkulasi Walker adalah pergerakan udara dari barat ke timur di wilayah tropis, di mana udara naik di atas daratan dan turun di atas lautan. Perubahan pola ini dapat berdampak signifikan terhadap distribusi hujan.
Terkait istilah “El Nino Godzilla”, Sonni menyebutnya sebagai sebutan populer untuk super El Nino dengan intensitas yang jauh lebih kuat dari biasanya. Dalam kondisi ini, suhu muka laut di Pasifik dapat meningkat hingga lebih dari 2,5 derajat Celcius di atas normal.
Fenomena super El Nino sendiri pernah terjadi pada tahun 1982, 1997, dan 2015, yang berdampak besar secara global, termasuk kekeringan ekstrem dan meningkatnya risiko kebakaran hutan.
Namun, ia menilai kondisi saat ini belum menunjukkan tanda-tanda menuju kategori ekstrem tersebut. “Untuk saat ini, intensitasnya masih dalam kategori lemah hingga moderat,” ungkapnya.
Dalam kajian lain, Sonni juga mengaitkan potensi penguatan El Nino dengan aktivitas Sunspot atau bintik hitam pada Matahari. Berdasarkan analisis data jangka panjang, puncak aktivitas sunspot berpotensi memperkuat intensitas El Nino.
“Jika melihat pola sebelumnya, setelah puncak sunspot, kemungkinan muncul El Nino kuat bisa terjadi. Dengan puncak sunspot di perkirakan terjadi pada 2025, maka peluang El Nino kuat bisa muncul pada 2026,” jelasnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa hubungan tersebut masih memerlukan kajian ilmiah yang lebih mendalam dengan data yang lebih luas dan jangka waktu lebih panjang.
Sebagai penutup, masyarakat di imbau untuk tetap mengacu pada informasi resmi BMKG serta memahami bahwa kondisi cuaca saat ini merupakan bagian dari dinamika iklim yang kompleks dan terus berubah.**







