WASHINGTON – Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), kembali memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin atau 0,25% pada Rabu (29/10/2025) waktu setempat.
Langkah ini menurunkan kisaran suku bunga menjadi 3,75% hingga 4,00%, sekaligus menjadi pemangkasan kedua sepanjang tahun ini.
Ketua The Fed Jerome Powell menyebut langkah tersebut sebagai bentuk penyesuaian hati-hati di tengah sinyal pelemahan ekonomi dan inflasi yang mulai terkendali. Namun, Powell menegaskan, pemangkasan kali ini bisa jadi yang terakhir di tahun 2025.
“Kami melihat pasar tenaga kerja mulai melambat dan inflasi menunjukkan tanda moderasi. Tapi masih terlalu dini untuk memastikan arah kebijakan berikutnya,” ujar Powell dalam konferensi pers di Washington.
The Fed menilai bahwa perlambatan di sektor tenaga kerja menjadi salah satu pemicu utama keputusan ini. Pertumbuhan lapangan kerja mulai melambat, sementara tingkat pengangguran perlahan naik, menandakan penurunan permintaan tenaga kerja.
Selain itu, tekanan inflasi yang mulai mereda juga memberikan ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter tanpa menimbulkan risiko overheating ekonomi.
Langkah ini juga di maksudkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi dan mencegah resesi yang di khawatirkan banyak analis menjelang akhir tahun.
Mulai 1 Desember 2025, The Fed juga akan menghentikan pengurangan neraca keuangan (balance sheet reduction), atau di kenal sebagai kebijakan quantitative tightening (QT).
Kebijakan ini menandai perubahan besar dalam arah kebijakan moneter AS setelah periode pengetatan selama dua tahun terakhir.
Reaksi pasar terhadap keputusan The Fed cukup beragam. Bursa saham AS sempat berfluktuasi tajam, sementara Dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama, termasuk Rupiah, yang tercatat menguat di pasar Asia pada perdagangan Kamis (30/10).
Pemangkasan suku bunga AS ini juga di perkirakan akan menekan imbal hasil obligasi global dan mendorong arus modal masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, suku bunga pinjaman konsumen seperti hipotek dan kartu kredit di AS di perkirakan akan turun, meringankan beban rumah tangga.
Keputusan The Fed kali ini tidak di ambil secara bulat. Beberapa pejabat tinggi berbeda pandangan.
Presiden The Fed Kansas City Jeffrey Schmid menilai suku bunga seharusnya tetap di pertahankan, sementara Gubernur Stephen Miran justru menginginkan pemangkasan yang lebih besar untuk mempercepat pemulihan ekonomi.
Powell menegaskan, kebijakan ke depan akan sangat bergantung pada data ekonomi, yang sayangnya terganggu akibat penutupan sementara pemerintahan (government shutdown) di Washington.
Kondisi ini membuat rilis data tenaga kerja dan inflasi tertunda, menambah ketidakpastian pasar.
“Kami tidak akan berspekulasi tentang langkah Desember. Semua akan bergantung pada data,” tegas Powell.
Dengan dinamika ekonomi global yang terus berubah, investor kini bersiap menghadapi periode volatilitas baru menjelang akhir tahun, sambil menantikan apakah langkah The Fed kali ini benar-benar menjadi akhir dari siklus pengetatan suku bunga AS.(*)







