Kerinci, Eksisjambi.com – Tradisi berebut kundur atau dalam bahasa masyarakat Desa Jujun di sebut kundau, kembali menjadi salah satu rangkaian acara yang paling di nantikan dalam pelaksanaan Kanduri Padi Dalam atau Kenduri Adat Jujun, yang di gelar di Desa Jujun, Kabupaten Kerinci.
Tradisi yang telah di wariskan secara turun-temurun dari para leluhur ini bukan sekadar menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga memiliki makna filosofis yang kuat bagi para petani. Dalam prosesi tersebut, warga secara bersama-sama memperebutkan buah kundur yang telah di siapkan sebagai bagian dari ritual adat.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kundur atau kundau di percaya memiliki simbol sebagai penolak hama tanaman padi. Tradisi ini di lakukan dengan harapan sawah masyarakat terhindar dari berbagai gangguan hama sehingga hasil panen yang di peroleh menjadi lebih baik dan melimpah.
Selain menjadi bentuk rasa syukur atas hasil pertanian, Kenduri Adat Jujun juga merupakan upaya masyarakat dalam menjaga kelestarian adat dan budaya yang telah di wariskan oleh nenek moyang sejak dahulu. Nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan tradisi tersebut.
Prosesi berebut kundur selalu menarik perhatian masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Suasana penuh kegembiraan dan semangat kebersamaan terlihat saat warga saling berebut mendapatkan kundur yang d iyakini membawa keberkahan bagi lahan pertanian mereka.
Tokoh adat setempat berharap tradisi ini terus di lestarikan sebagai identitas budaya masyarakat Desa Jujun. Di tengah perkembangan zaman, keberadaan Kenduri Adat Jujun menjadi bukti bahwa nilai-nilai kearifan lokal masih tetap di jaga dan di wariskan kepada generasi muda agar tidak hilang di telan waktu.
Melalui pelaksanaan Kenduri Adat Jujun, masyarakat tidak hanya memperkuat tali silaturahmi, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk menjaga warisan budaya yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat agraris di Kabupaten Kerinci.*







