Home / Artikel / Daerah / Internasional / Nasional / News

Rabu, 26 November 2025 - 11:27 WIB

Aji Tugumanik Jayakusuma: Ajian Kejawen untuk Kadigdayaan dan Kesejahteraan Hidup

Aji Tugumanik Jayakusuma

Aji Tugumanik Jayakusuma

Jawa,  Eksisjambi.com – Tradisi keilmuan Jawa kembali menjadi sorotan publik setelah ajian Aji Tugumanik Jayakusuma ramai di perbincangkan di sejumlah komunitas spiritual Nusantara.

Ajian yang di kenal dalam ranah kejawen ini di yakini sebagian kalangan sebagai sarana untuk memperoleh kekuatan batin, ketenteraman, hingga kesejahteraan hidup.

Menurut penuturan para praktisi, Aji Tugumanik Jayakusuma tidak dapat berdiri sendiri. Ajian ini hanya dapat di aktifkan apabila seseorang sudah terlebih dahulu menguasai pembangkit keilmuan versi Jawa, sebuah tahapan yang di sebut sebagai “wadah” atau dasar dari keseluruhan ilmu kejawen lainnya.

Proses pengaktifan ajian ini di sebut memiliki dua kondisi:

1. Sudah Mengaktifkan Pembangkit Keilmuan Jawa

Bagi mereka yang telah menjalani tahapan dasar tersebut, Aji Tugumanik Jayakusuma dapat langsung di aktifkan.

2. Belum Mengaktifkan Pembangkit Keilmuan Jawa

Praktisi di wajibkan terlebih dahulu mengaktifkan pembangkit keilmuan Jawa agar ajian dapat “berwadah” dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Baca Juga :  Kenduri Sko Tradisi Sakral Pemersatu Masyarakat Sakti Alam Kerinci yang Sarat Makna Budaya

Pengaktifan ajian ini di laksanakan selama tiga malam berturut-turut, di sertai pembacaan doa khusus sebanyak 111 kali, Fungsi yang Di yakini

Para pengamal menyebut Aji Tugumanik Jayakusuma memiliki dua fungsi utama:

  1. Kadigdayaan atau kekuatan batin dan keteguhan diri.
  2. Kesejahteraan hidup, yang di pahami sebagai kelancaran dalam urusan rezeki dan kehidupan sehari-hari.

Keyakinan ini menyeruak dari tradisi turun-temurun dalam budaya Jawa yang memandang ajian sebagai bagian dari laku spiritual untuk memperkuat jiwa dan etika kehidupan.

Salah satu aspek unik dari ajian ini adalah laku seumur hidup, yakni ritual yang harus di jalankan setiap kali hendak makan:

  • Pengamal mengambil sejumput nasi, memakannya tanpa lauk apa pun.
  • Setelah itu barulah makan seperti biasa.

Laku ini di anggap sebagai bentuk pengendalian diri dan penghormatan terhadap energi keilmuan yang di pelajari.

Praktisi membacakan doa berikut dalam proses pengaktifan:

“Tugu Manik Sang Sang Buwono, Gumilang Gilang Sajeroning Roso, Tumetes Setetes Dadi Nyowo lan Urip, Urip lan Nyowo, Hu Allah.” Doa tersebut di baca 111 kali selama tiga malam berturut-turut.

Baca Juga :  Mengenal Tiga Benda Langka dalam Tradisi Melayu yang Sarat Nilai Budaya

Selepas pengaktifan, amalan dapat di langgengkan setiap selesai salat Isya, cukup di baca 1 atau 3 kali agar ajian di anggap tetap aktif dan bertambah kuat.

Untuk hajat khusus, sebagian pengamal membacanya 3 kali sambil menahan napas, kemudian mengucapkan permohonan.

Aji Tugumanik Jayakusuma merupakan bagian dari kekayaan tradisi spiritual Jawa yang hingga kini masih di lestarikan oleh sejumlah kelompok.

Meski ajian ini di percaya oleh para pengamalnya memiliki manfaat tertentu, pakar budaya menekankan bahwa ajian harus di pandang sebagai praktik spiritual dan tradisi leluhur, bukan jaminan hasil yang bersifat material.

Warisan kejawen di sebut tetap relevan sepanjang di dekati dengan bijak, sebagai bagian dari identitas budaya yang mengakar kuat di tengah masyarakat Jawa.(*)

 

Share :

Baca Juga

Internasional

Induk Orca Tahlequah Bawa Jasad Anaknya Selama 17 Hari, Menggetarkan Dunia

Daerah

Apel Siaga dan Pencanangan Sensus Ekonomi 2026 Di Pimpin Langsung Bupati Tanjabtim Timur.

Advertorial

Komunitas Wartawan Tebo (KAWAT) Gelar Rapat Akhir Tahun Sekaligus Penyusunan Program Kerja Tahun 2024

Bangko

Masyarakat Kampung Halaman Wo Haris Siap Menangkan Nalim-Nilwan
Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin

Internasional

Prabowo–Putin Bertemu di Kremlin, Sepakati Penguatan Kerja Sama Energi dan Investasi

Advertorial

Kick Off Meeting Perencanaan Proyek MoFa

Advertorial

Wako Ahmadi Buka Sosialisasi Peran Lambanga Adat Dalam Pembangunan dan Penurunan Stunting

Internasional

Akankah Perang Ukraina – Rusia Berakhir?