Home / Daerah / Internasional / Nasional / News / Peristiwa

Selasa, 9 Desember 2025 - 18:16 WIB

BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Jelang Nataru 2025/2026, Dipicu MJO hingga La Nina Lemah

Cuaca Ekstrem Pada Nataru

Cuaca Ekstrem Pada Nataru

Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan prediksi cuaca nasional untuk periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Dalam penyampaiannya, BMKG menegaskan bahwa sejumlah wilayah di Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memengaruhi aktivitas masyarakat selama masa libur akhir tahun.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026, curah hujan di berbagai wilayah diprakirakan berada pada kisaran 300 hingga 500 milimeter per bulan.

Kondisi tersebut dinilai cukup signifikan dan dapat memicu meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor.

“Wilayah yang berpotensi mengalami kondisi tersebut meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan. Sementara itu, sebagian besar wilayah Kalimantan secara klimatologis berada dalam musim hujan sepanjang tahun,” ujar Faisal.

Puncak Musim Hujan Berbeda Setiap Wilayah, BMKG mencatat bahwa puncak musim hujan tahun ini tidak berlangsung serentak di seluruh Indonesia.

Januari – Februari 2026 menjadi periode puncak hujan bagi wilayah Lampung, Bengkulu, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Sementara itu, sebagian besar wilayah Sumatra, kecuali Lampung dan Bengkulu, diperkirakan akan mengalami puncak hujan lebih awal, yaitu pada Desember 2025.

Baca Juga :  Pemkab Tanah Datar Resmi Tetapkan Masa Tanggap Darurat Bencana Alam

Perbedaan puncak musim hujan ini menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan pemerintah daerah dalam menyiapkan strategi mitigasi bencana dan penanganan darurat.

Menurut BMKG, potensi cuaca ekstrem menjelang Nataru dipengaruhi oleh sejumlah fenomena atmosfer, di antaranya Monsun Asia, Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby dan Kelvin, serta potensi pertumbuhan bibit siklon tropis yang terus dimonitor oleh Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) BMKG.

Selain itu, keberadaan La Nina lemah dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif turut memperkuat kemungkinan meningkatnya curah hujan pada minggu kedua Desember 2025 hingga minggu pertama Januari 2026.

Pada fase tersebut, wilayah Sumatra bagian selatan, Jawa, dan Papua diperkirakan akan mengalami pertumbuhan awan hujan yang lebih signifikan karena adanya pengaruh gelombang atmosfer Rossby dan Kelvin. Sementara itu, MJO diprediksi meningkatkan potensi hujan deras di Jawa, Kalimantan, sebagian Sulawesi, dan Papua.

Dengan meningkatnya frekuensi hujan lebat, dampak lanjutan berupa banjir, longsor, hingga gangguan transportasi harus diwaspadai. BMKG menilai sektor transportasi udara dan laut menjadi dua sektor paling rentan terdampak, terutama jika pertumbuhan awan konvektif dan gelombang tinggi terus berlangsung.

Pada periode libur akhir tahun, tingginya mobilitas masyarakat berpotensi terhambat apabila kondisi cuaca ekstrem tidak diantisipasi sejak dini.

Baca Juga :  Yoast SEO Premium Hadirkan Website Berbasis WordPress

Sebagai upaya mitigasi, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di beberapa wilayah yang dinilai memiliki risiko tinggi. Wilayah tersebut mencakup Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Langkah ini dilakukan untuk membantu mengurangi potensi curah hujan ekstrem di wilayah padat penduduk dan rawan bencana, sekaligus mendukung upaya penanggulangan risiko hidrometeorologi selama puncak musim hujan.

Selain operasi teknis, BMKG memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah melalui penyampaian peringatan dini cuaca ekstrem, termasuk kepada wilayah Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Bengkulu, dan Lampung.

Pembaruan informasi dilakukan secara berkala untuk memastikan setiap daerah memiliki data terbaru dalam pengambilan kebijakan, terutama terkait kesiapsiagaan bencana.

Untuk memperluas jangkauan informasi, BMKG mengoptimalkan berbagai platform digital, seperti:

  • InfoBMKG,
  • Digital Weather for Traffic,
  • System of Interactive Aviation Meteorology (Ina-SIAM),
  • Indonesia Weather Information for Shipping (InaWIS).

Seluruh kanal tersebut dirancang agar masyarakat, operator transportasi, hingga pemerintah dapat mengakses informasi cuaca secara cepat dan akurat.

Menutup keterangan, Kepala BMKG mengimbau masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan selama libur Nataru, serta aktif memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG. (*)

 

Share :

Baca Juga

Internasional

Rupiah Mulai Menguat, Jauh dari Ancaman Tembus Rp17.000 per Dolar AS

Bangko

Satgas TMMD ke 122 Kodim 0420 Sarko Lakukan Perkerasan Jalan Penghubung Desa Bedeng Rejo-Sungai Putih
Keutamaan Bulan Rajab

Daerah

Bulan Rajab, Adalah Momentum Menanam Kebaikan Menuju Ramadhan

Advertorial

Aslori Ilham Sambut Kunker Gubernur Alharis dan Pastikan Kapan Peresmian PLTA KMH

Daerah

Pidato Presiden Prabowo tidak Singgung kenaikan gaji ASN
Sertijab Dandim 0416/Bute, Danrem 042/Gapu

Daerah

Sertijab Dandim 0416/Bute, Danrem 042/Gapu Tekankan Kemanunggalan TNI dan Kesiapan Yon TP

Daerah

Bupati Adirozal Pantau Pos Penyekatan Mudik lebaran Diperbatasan Telun Berasap

Advertorial

Kepala Desa Pangkal Duri Ucapkan Selamat Atas Pelantikan Bupati Dillah Hich dan Wakil Bupati Muslimin Tanja Kabupaten Tanjab Timur Periode 2025 – 2030