Jakart, http://Eksisjambi.com– Bulan Rajab menjadi salah satu bulan istimewa dalam kalender Hijriyah yang sarat dengan nilai spiritual dan momentum perbaikan diri bagi umat Islam. Rajab di kenal sebagai bulan menanam kebaikan, masa awal untuk mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Menyambut Ramadhan tidak cukup hanya dengan rasa gembira dan semangat semata. Setiap muslim di anjurkan untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin, di antaranya dengan membiasakan amal shalih dan meningkatkan kualitas ibadah sejak bulan Rajab.
Beberapa amalan yang di anjurkan antara lain puasa sunnah, sholat malam, memperbanyak membaca Al-Qur’an, bersedekah, memperbanyak doa, menuntut ilmu, serta membersihkan diri melalui taubat yang sungguh-sungguh.
Rajab termasuk dalam empat bulan haram atau bulan mulia yang di muliakan Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.”
(QS. At-Taubah: 36)
Empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, larangan berbuat maksiat semakin di tekankan, sementara amal kebaikan memiliki nilai pahala yang lebih besar.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan suci. Melakukan maksiat pada bulan-bulan itu dosanya lebih besar, dan amalan shalih yang di kerjakan akan di balas dengan pahala yang berlipat ganda (Latha-if Al Ma’arif, hlm. 207).
Para ulama terdahulu juga memberikan perumpamaan indah terkait keutamaan bulan Rajab. Abu Bakr Al-Balkhi rahimahullah mengatakan:
“Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman, dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen hasilnya.”
Ia juga menambahkan:
“Perumpamaan bulan Rajab seperti angin, bulan Sya’ban seperti awan yang membawa hujan, dan bulan Ramadhan seperti hujan. Barang siapa tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiraminya di bulan Sya’ban, maka bagaimana mungkin ia memanen hasilnya di bulan Ramadhan.” (Lathaiful Ma’arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali, hlm. 130)
Melalui perumpamaan tersebut, umat Islam di ajak untuk tidak menyia-nyiakan bulan Rajab sebagai awal pembentukan kebiasaan baik. Setiap langkah kebaikan, tetesan keringat dalam ibadah, dan niat tulus yang di lakukan pada bulan ini menjadi bekal berharga untuk meraih keberkahan Ramadhan.
Semoga kesempatan yang Allah Ta’ala berikan untuk bertemu kembali dengan bulan Rajab dapat di manfaatkan sebaik-baiknya oleh kaum muslimin, sehingga mampu meraih limpahan amal shalih dan keberkahan di bulan-bulan berikutnya hingga Ramadhan tiba. (*)







