Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini nasional terkait potensi ancaman ganda yang dapat memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia dalam beberapa bulan mendatang.
Mulai November 2025 hingga Maret 2026, Indonesia di perkirakan akan menghadapi fenomena La Niña lemah yang beriringan dengan peningkatan aktivitas siklon tropis, serupa dengan peristiwa Badai Seroja yang sempat melanda Nusa Tenggara Timur pada 2021 lalu.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa tim klimatologi BMKG telah mendeteksi indikasi suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah yang menurun tipis, mengindikasikan potensi terbentuknya La Niña dengan intensitas lemah.
Kondisi ini di perkuat dengan adanya penguatan angin timuran yang berpotensi memicu perubahan pola curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
“Fenomena La Niña kali ini di prediksi bersifat lemah, namun tetap perlu di waspadai karena dapat memicu dinamika atmosfer yang meningkatkan peluang terbentuknya siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia,” ujar Dwikorita dalam keterangan persnya, Sabtu (2/11/2025).
Menariknya, Dwikorita menegaskan bahwa curah hujan nasional secara umum masih berada pada kategori normal.
Peningkatan hujan di beberapa wilayah seperti Sumatra bagian barat, Kalimantan, dan Sulawesi, menurutnya, bukan di sebabkan langsung oleh La Niña, melainkan karena suhu muka air laut di perairan Indonesia yang meningkat signifikan.
“Pemanasan suhu muka laut di wilayah perairan Indonesia memicu penguapan yang lebih tinggi, sehingga potensi hujan lokal meningkat, terutama di wilayah pesisir barat dan tengah Indonesia,” tambahnya.
BMKG juga memperingatkan bahwa periode transisi ini merupakan waktu yang rentan terhadap terbentuknya siklon tropis, terutama di sekitar Laut Timor, Laut Banda, dan Samudra Hindia selatan Jawa–NTT.
Dan Pihaknya mengimbau pemerintah daerah, nelayan, dan masyarakat pesisir agar waspada terhadap potensi angin kencang, gelombang tinggi, dan hujan ekstrem.
Selain itu, BMKG akan memperkuat sistem peringatan dini berbasis cuaca ekstrem (EWS) dan meningkatkan koordinasi dengan BNPB, TNI/Polri, serta pemerintah daerah dalam penanganan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan badai lokal.
“Kami mengajak masyarakat untuk terus memantau informasi resmi dari BMKG melalui kanal digital dan media sosial resmi. Jangan mudah percaya pada isu atau informasi cuaca yang tidak bersumber dari kami,” tegas Dwikorita.
Dengan kondisi atmosfer global yang masih dinamis, BMKG menilai pentingnya langkah antisipatif sejak dini.
Peningkatan kesadaran publik dan kesiapsiagaan daerah menjadi kunci untuk meminimalisir dampak dari fenomena iklim dan cuaca ekstrem yang mungkin terjadi dalam beberapa bulan mendatang.(*)







