JAKARTA, http://Eksisjambi.com – Pengaruh drama Tiongkok atau yang populer di sebut dracin ternyata tidak hanya menyasar kalangan remaja dan dewasa. Kini, tren tersebut mulai merambah dunia anak-anak atau yang akrab di sebut bocil. Fenomena unik pun muncul: anak-anak terlihat asyik berburu dan mengidentifikasi batu giok, layaknya kolektor profesional.
Tren ini menjadi sorotan setelah sebuah unggahan video dan foto viral di media sosial. Dalam unggahan tersebut, tampak sekelompok anak laki-laki berkerumun dengan penuh antusias, bukan untuk bermain gim daring, melainkan mengamati sebuah batu yang di yakini sebagai Batu Giok Hijau Kaisar.
Yang menarik, mereka memanfaatkan lampu flash dari ponsel pintar untuk menyinari batu tersebut. Teknik ini di kenal di kalangan kolektor batu mulia sebagai metode “senteran”, yang bertujuan melihat serat, warna, dan tingkat transparansi batu guna menilai kualitasnya.
Fenomena “Demam Dracin” ini di sinyalir kuat di picu oleh maraknya drama Tiongkok bertema sejarah, kerajaan, hingga pencarian harta karun. Dalam banyak tayangan tersebut, batu giok kerap di gambarkan sebagai benda pusaka bernilai tinggi, simbol kekuasaan, serta keberuntungan para kaisar.
Tanpa di sadari, narasi tersebut merangsang imajinasi anak-anak. Mereka kemudian menirunya dalam dunia nyata, dengan menjadikan batu-batu di sekitar lingkungan sebagai objek pencarian harta karun versi mereka sendiri.
Meski terkesan sederhana, fenomena ini menunjukkan pergeseran menarik dalam pola bermain anak-anak. Jika sebelumnya waktu luang di dominasi layar gawai dan gim online, kini mereka mulai tertarik pada aktivitas fisik dan eksplorasi lingkungan sekitar meski tetap di bantu teknologi smartphone.
Namun demikian, para orang tua di imbau tetap memberikan pendampingan agar minat tersebut tidak di sertai kesalahpahaman, terutama terkait nilai ekonomi batu mulia yang sebenarnya memerlukan keahlian khusus untuk menilainya.
Unggahan dengan takarir “Gara-gara Dracin Banyak Bocil Berburu Batu Giok Hijau Kaisar” itu pun menuai beragam reaksi dari warganet. Banyak yang merasa terhibur melihat tingginya imajinasi anak-anak, hingga menganggap batu kerikil atau batu jalanan bercorak kehijauan sebagai harta karun kekaisaran.
“Dulu zamannya batu akik, sekarang zamannya giok kaisar gara-gara pengaruh film. Kreativitas mereka memang tidak ada batasnya,” tulis seorang netizen di kolom komentar.
Fenomena ini menjadi cerminan kuatnya pengaruh konten media terhadap perilaku dan pola bermain anak-anak di era modern. Dari layar kaca, cerita fiksi mampu menjelma menjadi permainan nyata yang penuh imajinasi dan tawa.**







