http://Eksisjambi.com – Harga emas dunia melemah pada perdagangan Rabu waktu Amerika Serikat, sementara perak justru menguat tajam setelah data inflasi produsen Amerika Serikat (AS) menunjukkan kenaikan signifikan pada April 2026. Penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi Treasury turut menekan pasar logam mulia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.
Berdasarkan laporan pasar logam mulia harian dari Kitco News, harga spot emas tercatat berada di kisaran US$4.687,20 per ounce atau turun 0,58 persen pada akhir perdagangan. Sementara itu, harga spot perak naik 1,09 persen menjadi US$87,660 per ounce dan mendekati level psikologis US$90.
Kondisi pasar berubah setelah pemerintah AS merilis data Producer Price Index (PPI) atau indeks harga produsen yang lebih tinggi dari perkiraan. Kenaikan tajam tersebut memperkuat spekulasi bahwa inflasi di AS masih tinggi dan dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika, Federal Reserve.
Data menunjukkan final-demand PPI naik 1,4 persen pada April, setelah sebelumnya meningkat 0,7 persen pada Maret dan 0,6 persen pada Februari. Angka tersebut menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Maret 2022.
Secara tahunan, inflasi produsen AS naik menjadi 6 persen. Kenaikan juga terlihat pada sektor barang final-demand sebesar 2 persen dan sektor jasa sebesar 1,2 persen. Sementara itu, harga energi melonjak 7,8 persen dan bensin naik tajam hingga 15,6 persen.
Penguatan data inflasi tersebut mendorong penguatan dolar AS serta menjaga imbal hasil obligasi Treasury tetap tinggi di area 4,5 persen. Kondisi ini biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset tanpa imbal hasil.
Meski demikian, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor penahan penurunan harga emas. Konflik yang memanas antara AS dan Iran, termasuk krisis di Selat Hormuz, membuat permintaan aset safe haven tetap bertahan.
Analis pasar menilai investor kini berada dalam posisi wait and see sambil mencermati arah kebijakan Federal Reserve dalam beberapa bulan mendatang. Jika inflasi tetap tinggi, peluang penurunan suku bunga di perkirakan semakin kecil dan dapat memberi tekanan lanjutan terhadap harga emas.
Sebaliknya, perak mendapat dukungan tambahan dari permintaan industri dan sentimen teknikal positif, sehingga mampu bertahan di jalur penguatan meskipun pasar logam mulia secara umum masih di bayangi ketidakpastian ekonomi global.**







