Eksisjambi.com – Dunia dikejutkan oleh kobaran api baru di Timur Tengah. Pada Jumat dini hari (13/6/2025), Israel melancarkan serangan militer paling brutal dalam sejarah konflik modern terhadap Iran. Hujan rudal dan jet tempur membombardir lebih dari 100 lokasi strategis, termasuk situs nuklir Natanz dan pusat komando militer di jantung Teheran. Iran pun langsung meledak dalam murka.
Korban terbesar dari serangan ini adalah tokoh-tokoh paling berpengaruh dalam keamanan nasional Iran: Komandan Garda Revolusi Iran (IRGC) Jenderal Hossein Salami tewas seketika bersama sejumlah ilmuwan nuklir senior yang selama ini menjadi “otak” di balik program nuklir Iran. Pemerintah Iran menyebut serangan ini sebagai “pukulan pengecut paling mematikan” dalam dua dekade terakhir.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tidak tinggal diam. Dalam pernyataan keras yang mengguncang dunia, ia bersumpah:
“Rezim Zionis telah membuka pintu neraka. Mereka akan menghadapi balasan yang akan mereka sesali selama generasi!”
Kemarahan Iran tidak hanya berhenti di kata-kata. Tak berselang lama, lebih dari 100 drone tempur Iran diberangkatkan ke wilayah udara Israel, dalam gelombang serangan balasan yang disebut “Operasi Bayangan Syahid”. Meskipun sistem pertahanan Iron Dome berhasil mencegat sebagian besar, sejumlah ledakan terdengar di beberapa kota dekat Tel Aviv, memicu kepanikan massal.
Juru bicara militer Iran, Brigjen Abolfazl Shekarchi, secara terang-terangan menyebut Amerika Serikat sebagai “dalang” di balik serangan ini:
“Jika Washington ingin bermain api bersama Zionis, maka mereka harus bersiap untuk terbakar bersama.”
Tak butuh waktu lama, efek domino dari serangan ini langsung mengguncang ekonomi dunia. Harga minyak mentah melesat ke angka tertinggi sejak 2022, sementara pasar saham global bergetar akibat ketakutan akan perang regional berskala penuh. Jalur pelayaran di Selat Hormuz urat nadi perdagangan minyak dunia dalam status siaga tinggi.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengeluarkan peringatan keras:
“Satu kesalahan langkah saja bisa meledakkan seluruh kawasan. Kami menyerukan penahanan diri mutlak dari semua pihak.”
Namun, di medan nyata, penahanan diri tampaknya jauh dari kenyataan. Laporan dari berbagai media menyebutkan mobilisasi besar-besaran pasukan Iran ke perbatasan barat dan konvoi rudal balistik yang mulai bergerak ke titik-titik peluncuran. Israel juga mengaktifkan status siaga penuh di seluruh wilayahnya, memanggil pasukan cadangan, dan mengunci semua akses diplomatik.
Ketegangan Iran-Israel yang selama ini berjalan dalam bayang-bayang kini tampaknya telah berubah menjadi konfrontasi terbuka. Analis militer di berbagai belahan dunia memperingatkan bahwa bentrokan ini bukan lagi sekadar “tit-for-tat” serangan terbatas, melainkan bisa berkembang menjadi perang regional melibatkan kekuatan global.
Beberapa negara Teluk, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dilaporkan memperketat pengamanan militer mereka. Sementara itu, Rusia dan China yang dikenal sebagai sekutu Iran, menyerukan investigasi independen dan memperingatkan pihak asing untuk tidak memprovokasi situasi lebih jauh.
Kini, dunia menahan napas. Satu keputusan entah dari Teheran atau Tel Aviv dapat menentukan nasib kawasan, bahkan dunia. Apakah akan ada jalan damai? Atau dunia sedang bersiap menyaksikan babak baru dari perang dunia yang terselubung?…Yang pasti, Iran telah terluka dan luka itu akan dibalas.(*)







