JAKARTA, Eksisjambi.com – Khutbah Jumat kali ini mengangkat tema “Pelajaran dari Surah An-Nas: Menjaga Hati dari Bisikan yang Menyesatkan”. Dalam khutbah tersebut, jamaah diajak untuk memahami pentingnya menjaga hati dari berbagai bisikan yang dapat menjerumuskan manusia kepada keburukan, baik yang berasal dari setan maupun pengaruh buruk sesama manusia.
Khutbah diawali dengan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta mengingatkan jamaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Dalam kehidupan, manusia sering kali berhadapan dengan berbagai bentuk ancaman. Ada musuh yang dapat dilihat dengan mata sehingga bisa dihindari, namun ada pula musuh yang tidak terlihat, yakni bisikan yang masuk perlahan ke dalam pikiran dan hati manusia.
Bisikan tersebut dapat berupa ajakan untuk berprasangka buruk, menumbuhkan kebencian, membenarkan kebohongan, memutus hubungan persaudaraan, hingga membuat seseorang menunda taubat dengan merasa masih memiliki banyak waktu.
Karena itu, manusia tidak cukup hanya menjaga diri dari bahaya yang terlihat, tetapi juga harus menjaga hati dari pengaruh yang dapat merusak iman.
Dalam khutbah tersebut dijelaskan bahwa Surah An-Nas memberikan pelajaran penting tentang tempat perlindungan yang paling utama bagi manusia, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah berfirman dalam Surah An-Nas ayat 1–6:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ١ مَلِكِ النَّاسِ ٢ إِلَٰهِ النَّاسِ ٣ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ٤ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ٥ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ٦
Artinya:
“Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi, yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.”
(QS. An-Nas: 1–6)
Tiga Sifat Allah dalam Surah An-Nas
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Pada awal Surah An-Nas, Allah mengenalkan diri melalui tiga sifat, yaitu Rabbinnas, Malikinnas, dan Ilahinnas.
Allah adalah Pemelihara manusia, Penguasa manusia, dan satu-satunya Tuhan yang wajib disembah.
Tiga sifat tersebut mengajarkan bahwa tempat manusia menggantungkan perlindungan bukanlah semata-mata kepada harta, jabatan, kekuatan, maupun makhluk, melainkan kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Dalam penjelasan para ulama, termasuk Ibnu Katsir, Surah An-Nas mengajarkan agar manusia memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan pembisik yang mengganggu hati. Bisikan itu dapat berasal dari setan golongan jin maupun manusia.
Tidak semua keburukan datang dengan bentuk yang menakutkan. Terkadang keburukan hadir melalui kata-kata yang tampak seperti nasihat, tetapi sebenarnya mengarahkan kepada permusuhan dan dosa.
Oleh sebab itu, setiap dorongan dalam hati perlu diperiksa dengan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah. Apakah hal tersebut semakin mendekatkan diri kepada Allah atau justru menjauhkan manusia dari jalan-Nya.
Keutamaan Surah Al-Falaq dan An-Nas
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan pentingnya membaca surah perlindungan.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidakkah engkau mengetahui ayat-ayat yang diturunkan malam ini, yang belum pernah ada yang semisal dengannya? Yaitu, Katakanlah aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh dan Katakanlah aku berlindung kepada Tuhan manusia.”
(HR. Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan keutamaan Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas sebagai bacaan perlindungan.
Karena itu, jangan sampai manusia hanya sibuk mencari perlindungan untuk tubuh dan kehidupan dunia, tetapi lupa meminta perlindungan bagi hati dan keimanannya.
Rasulullah ﷺ Mengajarkan Berlindung kepada Allah
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Terdapat kisah dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ketika Rasulullah ﷺ mengalami sakit menjelang wafat, beliau membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, kemudian meniupkan ke kedua tangan beliau dan mengusapkannya ke tubuh.
Ketika sakit semakin berat, Aisyah membacakan surah-surah tersebut dan mengusapkan tangan Rasulullah ﷺ ke tubuh beliau dengan mengharap keberkahan.
Kisah ini menjadi pelajaran bahwa Rasulullah ﷺ, manusia pilihan Allah, tetap memohon perlindungan kepada-Nya ketika menghadapi kelemahan.
Maka manusia yang penuh kekurangan tentu lebih membutuhkan pertolongan dan penjagaan dari Allah.
Menjaga Hati di Tengah Kehidupan
Surah An-Nas bukan hanya dibaca ketika hendak tidur, tetapi menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Pesannya perlu hadir ketika menghadapi masalah keluarga, ketika mendengar kabar tentang orang lain, ketika amarah muncul, maupun ketika muncul keinginan membalas keburukan dengan keburukan.
Jamaah diingatkan agar tidak membiarkan bisikan kebencian merusak persaudaraan, tidak membiarkan kesombongan menutup hati dari nasihat, serta tidak menyerah pada bisikan putus asa yang membuat seseorang jauh dari rahmat Allah.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah:
Membaca Surah An-Nas dengan memahami maknanya.
Memperbanyak zikir kepada Allah.
Memastikan kebenaran sebelum menyebarkan informasi.
Menahan lisan ketika emosi menguasai diri.
Selalu memohon agar Allah menjaga hati dan iman.
Sebab tidak semua bisikan harus diikuti, tidak semua prasangka harus dipercaya, dan tidak semua dorongan hati harus diwujudkan dalam perbuatan.
Khutbah Kedua
Pada khutbah kedua, jamaah kembali diingatkan untuk bertakwa kepada Allah, menjaga ketaatan, serta memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Khutbah ditutup dengan doa agar Allah mengampuni dosa kaum muslimin dan muslimat, menjaga hati manusia agar tetap berada dalam petunjuk-Nya, memberikan keberkahan kepada keluarga dan keturunan, serta memberikan kebaikan di dunia dan akhirat.
Sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
Melalui pesan Surah An-Nas, umat Islam diajak untuk senantiasa menjadikan Allah sebagai tempat perlindungan utama, menjaga hati dari bisikan yang menyesatkan, dan memperkuat iman dalam setiap keadaan.(*)
Disusun oleh: Fadlin Abi Fathimah







