Home / Daerah / Internasional / Kerinci / Kota Sungai Penuh / Nasional / News

Kamis, 24 April 2025 - 10:46 WIB

Makhluk Gaib Penunggu Hutan Kerinci yang sering “mengalimun” penduduk tanpa jejak

Eksisjambi.com- Beberapa minggu terakhir masyarakat Kerinci dikejutkan dengan berita hilangnya remaja bernama Wira saat berburu di hutan Kerinci. Sampai saat ini, remaja tersebut belum ditemukan. Kasus ini bukanlah pertama kali terjadi, beberapa tahun yang lalu seorang remaja juga hilang tanpa jejak di wilayah Danau Kaco. Kasus hilangnya warga juga terjadi pada pendaki Gunung Kerinci. Sebagian besar tidak ditemukan jejaknya.

Dalam kepercayaan masyarakat Kerinci, hutan-hutan lebat yang berada di sekitar gunung dipercayai sebagai tempatnya makhluk gaib bernama “mambang” atau “diwo”. Mereka berwujud seperti manusia atau bisa menyerupai laki-laki maupun perempuan tetapi tidak memiliki lekukan di atas bibir. Mambang atau diwo menjadikan sari-sari bunga di hutan sebagai makanan mereka. Mereka adalah makhluk gaib yang bisa hilang dari pandangan tiba-tiba, dan bisa muncul tiba-tiba di dalam hutan.

Baca Juga :  Malam 27 Rajab 2026, Waktu Istimewa Tingkatkan Ibadah dan Spiritualitas
Makhluk Gaib Penunggu Hutan Kerinci yang sering “mengalimun” penduduk tanpa jejak
Makhluk Gaib Penunggu Hutan Kerinci yang sering “mengalimun” penduduk tanpa jejak

Bagi masyarakat Kerinci mambang atau diwo memiliki sifat baik dan buruk. Mereka bisa membimbing manusia yang tersesat di hutan untuk kembali, bisa melindungi manusia dan tanaman. Di sisi lain, mereka juga bisa menyesatkan manusia di dalam hutan, bahkan bisa “mengalimun” atau membuat manusia tidak tampak oleh pandangan manusia lain. Orang-orang yang dialimun bisa melihat orang yang mencarinya, tetapi orang yang mencari keberadaannya tidak bisa melihat dan mendengar orang tersebut.

Baca Juga :  Kadis Kopperindag Tanjabbar Arogan Intimidasi Wartawan

Masyarakat Kerinci percaya orang-orang yang dialimun oleh mambang atau dewo disebabkan kesalahan atau melanggar pantangan ketika memasuki hutan atau karena melanggar pantangan adat baik yang dilakukan dia pribadi atau keluarganya.

Sebagai penghormatan untuk mambang dan dewo, biasanya masyarakat Kerinci melakukan “basatabik” memohon izin atau permisi saat memasuki hutan lebat dengan meletakkan sirih pinanh dan rokok di pintu rimba dan menyelipkan dedaunan rimba di telinga mereka.

Para dukun dalam ritual juga mempersembahkan sirih pinang dan rokok serta tujuh jenis bunga/kembang dengan sembilan warna yang berbeda (adun tujuh warno sembilan) sebagai simbol “makanan mambang/diwo” dengan tujuan agar mambang dan diwo memberikan perlindungan bagi manusia dan tanam-tanaman.(*)

Sumber: FB Kebudayaan Kerinci

Share :

Baca Juga

Tren ruang acara modern

Artikel

Tren Baru Ruang Acara: Tempat dengan Kapasitas Fleksibel dan Fasilitas Lengkap Jadi Pilihan Utama

Bangko

Bupati M. Syukur Gagas Lahan Pertanian Jadi Sarana Edukasi

Bangko

Waw…, Demi Generasi Milenial dan GenZ Berkreasi Nilwan Yahya Buat Program Merangin Sebagai Kota Festival
Gempa Hokkaido Jepang

Internasional

Gempa Magnitudo 5,0 Guncang Hokkaido, Jepang Pagi Ini

Advertorial

Pj Bupati Asraf Serahkan Bantuan Kepada Korban Kebakaran Di Desa Koto Salak
Pemerintah Kota Sungai Penuh bersama DPRD menggelar buka puasa bersama

Daerah

Wako Alfin dan Wawako Azhar Gelar Buka Bersama DPRD dan Seluruh SKPD
Sesar Takengon di Aceh

Daerah

Lubang Besar di Aceh Dekat Sesar Takengon Segmen Lok Tawar

Daerah

Bank Indonesia Beli 2 Ton Emas pada Kuartal I 2026, Cadangan Safe Haven Terus Diperkuat