Eksisjambi.com- Beberapa minggu terakhir masyarakat Kerinci dikejutkan dengan berita hilangnya remaja bernama Wira saat berburu di hutan Kerinci. Sampai saat ini, remaja tersebut belum ditemukan. Kasus ini bukanlah pertama kali terjadi, beberapa tahun yang lalu seorang remaja juga hilang tanpa jejak di wilayah Danau Kaco. Kasus hilangnya warga juga terjadi pada pendaki Gunung Kerinci. Sebagian besar tidak ditemukan jejaknya.
Dalam kepercayaan masyarakat Kerinci, hutan-hutan lebat yang berada di sekitar gunung dipercayai sebagai tempatnya makhluk gaib bernama “mambang” atau “diwo”. Mereka berwujud seperti manusia atau bisa menyerupai laki-laki maupun perempuan tetapi tidak memiliki lekukan di atas bibir. Mambang atau diwo menjadikan sari-sari bunga di hutan sebagai makanan mereka. Mereka adalah makhluk gaib yang bisa hilang dari pandangan tiba-tiba, dan bisa muncul tiba-tiba di dalam hutan.

Bagi masyarakat Kerinci mambang atau diwo memiliki sifat baik dan buruk. Mereka bisa membimbing manusia yang tersesat di hutan untuk kembali, bisa melindungi manusia dan tanaman. Di sisi lain, mereka juga bisa menyesatkan manusia di dalam hutan, bahkan bisa “mengalimun” atau membuat manusia tidak tampak oleh pandangan manusia lain. Orang-orang yang dialimun bisa melihat orang yang mencarinya, tetapi orang yang mencari keberadaannya tidak bisa melihat dan mendengar orang tersebut.
Masyarakat Kerinci percaya orang-orang yang dialimun oleh mambang atau dewo disebabkan kesalahan atau melanggar pantangan ketika memasuki hutan atau karena melanggar pantangan adat baik yang dilakukan dia pribadi atau keluarganya.
Sebagai penghormatan untuk mambang dan dewo, biasanya masyarakat Kerinci melakukan “basatabik” memohon izin atau permisi saat memasuki hutan lebat dengan meletakkan sirih pinanh dan rokok di pintu rimba dan menyelipkan dedaunan rimba di telinga mereka.
Para dukun dalam ritual juga mempersembahkan sirih pinang dan rokok serta tujuh jenis bunga/kembang dengan sembilan warna yang berbeda (adun tujuh warno sembilan) sebagai simbol “makanan mambang/diwo” dengan tujuan agar mambang dan diwo memberikan perlindungan bagi manusia dan tanam-tanaman.(*)
Sumber: FB Kebudayaan Kerinci







