JAMBI, Eksisjambi.com – Penemuan sebuah naskah kuno Surat Ulu di Kelurahan Selamat, Kota Jambi, kembali membuka tabir kekayaan warisan budaya masyarakat pedalaman Sumatera. Naskah yang ditulis menggunakan media kulit kayu gaharu (khaghas) itu berisi mantra serta tata cara belangir atau mandi penyucian diri, yang menjadi bagian dari tradisi spiritual masyarakat masa lampau.
Surat Ulu, yang juga dikenal sebagai Aksara Ulu atau Aksara Kaganga, merupakan sistem penulisan tradisional yang berkembang di wilayah pedalaman (uluan) Sumatera bagian tengah hingga selatan. Nama “Ulu” berasal dari kata hulu, yang merujuk pada kawasan dataran tinggi atau hulu sungai tempat masyarakat penggunanya bermukim.
Aksara ini digunakan oleh berbagai suku di Sumatera, di antaranya Besemah, Rejang, Lembak, Musi, Ogan, Lampung, serta sejumlah komunitas lainnya.
Ditulis di Kulit Kayu Gaharu
Pada masa lalu, masyarakat uluan memanfaatkan berbagai bahan alami sebagai media tulis. Namun, yang paling umum digunakan adalah kulit kayu gaharu (khaghas). Seiring berkembangnya perdagangan, sebagian naskah juga mulai ditulis di atas kertas Eropa.
Isi manuskrip Surat Ulu sangat beragam, mencerminkan tingginya tingkat literasi masyarakat pada zamannya. Naskah-naskah tersebut memuat silsilah keluarga, hukum adat, ajaran Islam, mantra pengobatan tradisional, hingga ramalan nasib.
Dalam perkembangannya, penggunaan Surat Ulu mulai tergeser oleh aksara Jawi (Arab-Melayu) dan kemudian huruf Latin. Meski demikian, berbagai upaya pelestarian terus dilakukan agar warisan aksara asli Nusantara ini tetap dikenal oleh generasi muda.
Berisi Mantra Penyucian Diri
Naskah yang ditemukan di Kelurahan Selamat, Kota Jambi, diketahui berisi kumpulan mantra serta tata cara belangir, yakni ritual mandi sebagai simbol penyucian diri.
Salah satu bagian naskah telah berhasil dibaca dan ditransliterasi oleh ahli. Berikut isi salah satu kutipan tersebut.
Transliterasi:
“Hulada huladi hu, urip tiyada kana ing pati. Bibi kata Muhamat Rahayu kata Alah, urip tiyada kana ing pati. Ini ucap Alah.”
Arti:
“Hulada huladi hu” merupakan pembuka mantra. Selanjutnya bermakna doa agar seseorang hidup tanpa terkena guna-guna atau gangguan hingga akhir hayat. Kalimat “Bibi kata Muhammad, Rahayu kata Allah” mengandung harapan keselamatan dari Allah, sehingga hidup terhindar dari berbagai gangguan sampai meninggal dunia. Penutupnya berbunyi, “Inilah ucapan Allah.”
Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan
Keberadaan naskah Surat Ulu menjadi bukti bahwa masyarakat pedalaman Sumatera telah memiliki tradisi tulis yang maju jauh sebelum penggunaan huruf Latin meluas. Selain memiliki nilai sejarah, manuskrip-manuskrip tersebut juga menyimpan informasi penting mengenai adat istiadat, kepercayaan, sistem sosial, hingga perkembangan Islam di wilayah Sumatera.
Pelestarian naskah kuno, penelitian ilmiah, serta pengenalan Aksara Ulu kepada generasi muda dinilai menjadi langkah penting agar warisan budaya tersebut tetap hidup dan tidak hilang ditelan zaman.(*)







