Teheran, Eksisjambi.com – Kondisi perekonomian Iran kembali menjadi sorotan setelah nilai tukar mata uang Rial terhadap Dolar Amerika semakin melemah, Per hari ini, satu lembar uang pecahan 2 juta Rial Iran hanya setara dengan sekitar Rp33 ribu dalam kurs rupiah.
Dengan nilai tersebut, daya beli masyarakat Iran kian tertekan dan Sebagai gambaran, uang pecahan 2 juta Rial yang tampak besar di atas kertas, nyatanya hanya cukup untuk membeli satu porsi nasi kebab khas Iran di sejumlah kota besar seperti Teheran dan Isfahan.
Fenomena ini bukan hal baru Sejak beberapa tahun terakhir, Iran menghadapi inflasi tinggi akibat kombinasi dari sanksi internasional, melemahnya ekspor minyak, serta ketidakstabilan politik regional. Harga kebutuhan pokok, termasuk bahan makanan, terus meroket dan membebani kehidupan masyarakat sehari-hari.
Seorang warga Teheran yang ditemui media setempat mengeluhkan kondisi tersebut. “Dulu, dengan uang pecahan 2 juta Rial, kami bisa membeli kebutuhan rumah tangga untuk dua hari. Sekarang, paling hanya dapat makanan untuk sekali makan,” ujarnya.
Bank Sentral Iran sebenarnya telah berupaya melakukan berbagai langkah, termasuk rencana redenominasi mata uang dengan memangkas empat nol dari nilai Rial. Namun hingga kini, kebijakan tersebut belum mampu mengembalikan kepercayaan pasar maupun mengendalikan inflasi.
Pelemahan nilai tukar Rial juga berdampak pada masyarakat kelas menengah yang semakin kesulitan mengakses kebutuhan primer. Sementara itu, kelompok ekonomi bawah terpaksa beralih pada makanan dan kebutuhan dengan kualitas lebih rendah agar tetap bisa bertahan hidup.
Situasi ini membuat mata uang Rial Iran menjadi salah satu yang terlemah di dunia. Banyak analis memperkirakan tanpa adanya reformasi struktural dan pencabutan sanksi internasional, kondisi ini akan semakin memburuk dalam beberapa tahun mendatang. (*)







