Jakarta – Di balik tampilan gagah dan gesitnya, jet tempur Chengdu J-10 ternyata memerlukan biaya operasional yang tidak murah. Berdasarkan estimasi sejumlah analis pertahanan, setiap satu jam penerbangan pesawat tempur buatan Tiongkok itu bisa menelan biaya antara US$10.000 hingga US$15.000, atau sekitar Rp155–232 juta per jam.
Angka tersebut memang terdengar fantastis, namun sepenuhnya masuk akal bila melihat apa saja yang termasuk dalam perhitungannya. Biaya operasional per jam atau cost per flight hour tidak hanya mencakup bahan bakar, tetapi juga seluruh kebutuhan pendukung penerbangan, mulai dari perawatan, suku cadang, gaji teknisi, hingga logistik di darat.
Dalam standar militer internasional termasuk yang digunakan oleh NATO dan Angkatan Udara Amerika Serikat cost per flight hour di gunakan untuk mengukur efisiensi operasional sebuah pesawat tempur.
Secara teknis, mesin AL-31FN atau WS-10B yang digunakan J-10 mengonsumsi sekitar 6.000–9.000 liter bahan bakar per jam. Dengan harga bahan bakar jet militer sekitar US$1,3 per liter, biaya bahan bakar saja sudah mencapai US$7.000–12.000 per jam.
Namun biaya itu baru sebagian kecil. Setiap jam terbang juga mengurangi usia pakai mesin, radar, dan sistem avionik yang bernilai jutaan dolar. Karena itu, sebagian biaya di hitung sebagai cadangan untuk perawatan besar atau overhaul di masa mendatang.
Selain bahan bakar dan perawatan, satu unit J-10 didukung oleh puluhan teknisi, kru darat, serta kendaraan logistik, Semua unsur ini juga diperhitungkan dalam biaya operasional.
Tak hanya itu, pesawat yang bernilai puluhan juta dolar memiliki umur pakai terbatas, sehingga penyusutan nilai atau depresiasi turut di masukkan dalam hitungan total biaya Secara sederhana, biaya per jam terbang meliputi:
- Bahan bakar
- Suku cadang & perawatan rutin
- Gaji teknisi & kru pendukung
- Logistik & dukungan daraBahant
- Penyusutan nilai pesawat
Dengan kata lain, setiap satu jam penerbangan bukan hanya membakar bahan bakar jet, tetapi juga “menghabiskan” sebagian umur mesin, sistem elektronik, dan tenaga manusia di balik operasionalnya.
Jika di bandingkan, biaya operasional J-10 justru tergolong efisien. Sebagai perbandingan:
- F-16 Fighting Falcon: sekitar US$22.000/jam
- Dassault Rafale: sekitar US$19.000/jam
- F-35A Lightning II: mencapai US$33.000/jam
Dengan kisaran US$10.000–15.000, J-10 termasuk hemat di kelasnya tanpa mengorbankan performa. Jet ini telah di lengkapi teknologi modern seperti radar AESA, sistem avionik digital, serta kemampuan manuver tinggi.
Meski belum ada data resmi dari pemerintah atau pabrikan Tiongkok, estimasi tersebut di nilai realistis secara teknis. Biaya ratusan juta rupiah per jam bukanlah pemborosan, melainkan konsekuensi logis dari teknologi tinggi dan kesiapan tempur yang harus selalu di jaga.
Setiap menit di udara bagi jet tempur seperti Chengdu J-10 adalah hasil dari kombinasi rumit antara teknologi, logistik, dan sumber daya manusia, yang semuanya berperan menjaga kekuatan udara tetap siap menghadapi ancaman kapan pun dibutuhkan.(*)







