Jakarta,http://Eksisjambi.com – Perdebatan mengenai kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) kembali menjadi perhatian publik setelah Ketua Komisi II DPR RI, Muhammad Rifqinizamy Karsayuda, melontarkan kritik terhadap budaya kerja birokrasi dalam rapat kerja bersama Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) serta Badan Kepegawaian Negara (BKN), Rabu (15/7/2026).
Dalam rapat tersebut, Rifqinizamy menyoroti masih lemahnya daya saing ASN dibandingkan sektor swasta. Menurutnya, reformasi birokrasi belum sepenuhnya menyentuh perubahan ekosistem digital maupun pola pikir sumber daya manusia di lingkungan pemerintahan.
“Coba kita pikirin deh di swasta orang bisa kompetitif kok pegawai negeri ASN enggak bisa kompetitif. Ekosistem digitalnya belum berubah, mentalitas sumber daya manusianya nggak berubah, masih ngabsen, pulang, ngopi, sore ngabsen lagi,” ujar Rifqinizamy.
Pernyataan tersebut langsung memicu perbincangan luas di media sosial. Sebagian masyarakat mendukung kritik tersebut sebagai bentuk dorongan agar reformasi birokrasi semakin cepat, sementara pihak lain menilai pernyataan itu tidak mencerminkan kondisi seluruh ASN yang bekerja di berbagai sektor pelayanan publik.
Beberapa hari setelah kritik tersebut mencuat, Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Zudan Arif Fakrulloh, menyampaikan pesan terbuka kepada seluruh ASN melalui akun resmi BKN pada Minggu (19/7/2026).
Dalam pesannya, Zudan mengajak seluruh aparatur negara untuk tetap menjaga semangat pengabdian meskipun banyak pekerjaan mereka tidak terlihat oleh masyarakat.
“Tak semua karya ASN disorot lampu panggung. Namun di ruang kelas yang sunyi, di balik meja pelayanan, di setiap laporan yang diteliti dengan saksama, di situlah denyut sebuah bangsa dijaga tetap hidup,” tulis Zudan.
Ia menegaskan bahwa pengabdian ASN hadir dalam berbagai bidang pelayanan, mulai dari pendidikan, kesehatan, penelitian, administrasi pemerintahan hingga penegakan ketertiban umum.
Menurut Zudan, saat ini terdapat sekitar 6,7 juta ASN di Indonesia yang menjalankan tugas sebagai guru, dosen, dokter, perawat, bidan, peneliti, penyuluh, Satpol PP, hingga berbagai profesi lain yang menjadi tulang punggung pelayanan publik.
“6,7 juta ASN adalah 6,7 juta cara mencintai Indonesia,” lanjutnya.
Pesan tersebut dinilai sebagai bentuk apresiasi sekaligus penyemangat bagi jutaan ASN yang setiap hari bekerja memberikan pelayanan kepada masyarakat, meski sebagian besar kontribusinya tidak selalu menjadi sorotan publik.
Perdebatan antara kritik terhadap budaya kerja birokrasi dan apresiasi terhadap dedikasi ASN menunjukkan bahwa reformasi birokrasi masih menjadi agenda penting pemerintah. Di satu sisi, peningkatan disiplin, profesionalisme, dan transformasi digital terus didorong.
Di sisi lain, pengakuan terhadap jutaan ASN yang bekerja dengan penuh tanggung jawab juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan terhadap pelayanan publik.*







