JAKARTA,http://Eksisjambi.com – Komisi X DPR RI menyampaikan catatan kritis terhadap paparan data Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI terkait tingkat serapan tenaga kerja lulusan perguruan tinggi. Angka yang di sampaikan pemerintah di nilai terlalu optimistis dan tidak sejalan dengan kondisi riil di masyarakat.
Anggota Komisi X DPR RI menilai data tersebut terkesan “too good to be true” karena sangat kontras dengan realitas yang banyak di keluhkan generasi muda di berbagai platform media sosial, terutama terkait sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak setelah lulus kuliah.
“Di satu sisi, pemerintah menyampaikan angka serapan lulusan yang sangat tinggi. Namun di sisi lain, kita melihat keresahan anak-anak muda yang justru kesulitan masuk ke dunia kerja. Ini perlu di kaji secara serius,” ujar anggota Komisi X DPR RI dalam rapat kerja bersama Kemendiktisaintek.
Komisi X menilai perbedaan antara data resmi dan realitas lapangan berpotensi menimbulkan kekeliruan dalam perumusan kebijakan pendidikan tinggi dan ketenagakerjaan. Oleh karena itu, DPR RI mendorong pemerintah untuk bersikap lebih transparan, khususnya terkait metode penghitungan data serapan tenaga kerja tersebut.
Menurut Komisi X, pemerintah perlu menjelaskan secara rinci definisi “bekerja” yang di gunakan dalam penghitungan, termasuk apakah pekerjaan tersebut sesuai dengan bidang keilmuan lulusan, bersifat penuh waktu atau paruh waktu, serta memperhitungkan aspek keberlanjutan dan kelayakan kerja.
“Kalau definisinya tidak jelas, kebijakan yang di hasilkan bisa tidak tepat sasaran. Pendidikan tinggi harus benar-benar menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi, bukan sekadar angka statistik,” tegasnya.
Komisi X DPR RI juga meminta Kemendiktisaintek untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendataan lulusan perguruan tinggi serta memperkuat sinergi dengan kementerian dan lembaga terkait agar data yang di sajikan benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan.
DPR berharap, dengan keterbukaan dan akurasi data, kebijakan pendidikan tinggi ke depan dapat lebih responsif terhadap tantangan dunia kerja, sekaligus menjawab keresahan generasi muda yang saat ini tengah berjuang mencari peluang kerja di tengah persaingan yang semakin ketat.**







