JAKARTA, http://Eksisjambi.com – Langkah petani tak pernah berhenti. Dari desa ke dunia, dari lahan ke forum internasional, perjuangan reforma agraria terus di gaungkan sebagai jalan menuju keadilan dan kedaulatan.
Serikat Petani Indonesia (SPI) di pastikan akan hadir dalam Konferensi Internasional tentang Reforma Agraria dan Pembangunan Pedesaan (ICARRD+20) yang di gelar di Cartagena, Kolombia, pada 24–26 Februari 2026. Kehadiran SPI menjadi bagian dari komitmen untuk membawa suara petani Indonesia ke forum global sekaligus memperkuat solidaritas lintas negara dalam memperjuangkan reforma agraria.
ICARRD+20 merupakan forum internasional yang mempertemukan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, serikat petani, akademisi, hingga lembaga internasional untuk membahas isu-isu strategis terkait reforma agraria dan pembangunan pedesaan berkelanjutan.
Forum ini juga menjadi momentum evaluasi dua dekade komitmen global terhadap pembaruan struktur penguasaan tanah, pengentasan kemiskinan pedesaan, dan penguatan kedaulatan pangan.
Menuju Cartagena, delegasi SPI membawa pesan yang konsisten di perjuangkan selama ini, yakni:
1. Tanah untuk petani – memastikan akses dan kontrol petani terhadap sumber-sumber agraria sebagai fondasi keadilan sosial.
2. Kedaulatan pangan untuk bangsa – menegaskan hak rakyat menentukan sistem pangan dan pertanian sendiri.
3. Keadilan agraria untuk masa depan – mendorong pembaruan kebijakan yang berpihak pada petani kecil, nelayan, dan masyarakat adat.
SPI menilai reforma agraria bukan sekadar redistribusi lahan, tetapi juga menyangkut perlindungan hak petani, penguatan ekonomi desa, serta pembangunan pedesaan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Partisipasi dalam ICARRD+20 menjadi ruang strategis bagi petani Indonesia untuk berbagi pengalaman, tantangan, dan praktik baik dalam memperjuangkan reforma agraria di tingkat nasional. Di sisi lain, forum ini juga membuka peluang membangun jejaring internasional guna memperkuat advokasi kebijakan agraria yang lebih progresif.
Bagi SPI, perjuangan reforma agraria adalah jalan panjang yang tidak hanya berbicara tentang kepemilikan tanah, tetapi juga tentang martabat, kesejahteraan, dan keberlanjutan kehidupan petani di tengah berbagai tantangan global seperti krisis iklim, alih fungsi lahan, dan ketimpangan penguasaan sumber daya.
Dengan semangat solidaritas dan keberanian, petani Indonesia melangkah menuju Cartagena. Dari sawah dan ladang Nusantara, suara mereka akan bergema di panggung dunia menegaskan bahwa reforma agraria adalah kunci menuju keadilan sosial dan kedaulatan bangsa.**







