Jakarta,Eksisjambi.com – Musim peralihan yang sedang berlangsung di kawasan Asia-Pasifik di prediksi akan memunculkan dinamika cuaca ekstrem pada akhir September ini, Badan meteorologi internasional memperkirakan Samudra Pasifik bagian barat hingga Laut Cina Selatan berpotensi di kepung oleh sistem badai tropis.
Fenomena ini bisa berdampak signifikan bagi wilayah Indonesia, terutama di kawasan Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi dan Jika badai tropis terbentuk secara bersamaan, maka angin kencang dan hujan lebat di perkirakan akan meningkat intensitasnya di sejumlah daerah.
Para ahli menyebut, meski pusat badai kemungkinan berada di luar perairan Indonesia, efek tidak langsungnya tetap terasa.
Peningkatan curah hujan, potensi banjir bandang, longsor, hingga gelombang tinggi di perkirakan mengancam wilayah pesisir barat Sumatera, Kalimantan bagian timur, hingga perairan Sulawesi.
“Ketika badai tropis muncul di Pasifik barat dan Laut Cina Selatan secara beruntun, Indonesia akan mendapat limpahan uap air dan Hasilnya berupa hujan lebat, angin kencang, bahkan cuaca ekstrem di beberapa titik,” ujar seorang peneliti klimatologi.
Selain badai tropis, faktor lain yang memperparah kondisi adalah angin monsun timur yang masih cukup kuat, Angin musiman ini membawa massa udara kering dari Australia, namun interaksinya dengan sistem badai tropis justru berpotensi memicu ketidakstabilan atmosfer dan memperkuat hujan badai lokal.
Masyarakat di himbau untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya di wilayah rawan bencana hidrometeorologi dan Nelayan dan pelaku transportasi laut juga perlu memperhatikan potensi gelombang tinggi di beberapa perairan Indonesia bagian barat dan utara.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan menyiapkan langkah mitigasi sejak dini. “Stay safe, siapkan diri menghadapi cuaca ekstrem di masa pancaroba ini serta Jangan abaikan informasi resmi dari BMKG maupun otoritas terkait,” tambah sumber tersebut.(*)







