JAMBI,http://Eksisjambi.com – Fenomena menghilangnya kunang-kunang dari area persawahan dan pedesaan bukan sekadar hilangnya keindahan malam hari. Para ahli menilai kondisi ini sebagai sinyal serius penurunan kualitas lingkungan yang perlu segera mendapat perhatian.
Kunang-kunang selama ini di kenal sebagai serangga yang memancarkan cahaya alami di malam hari. Namun, keberadaan mereka kini semakin jarang di jumpai, bahkan di wilayah yang dulu menjadi habitat utamanya.
Para peneliti menyebut kunang-kunang sebagai bioindikator atau penanda alami kesehatan lingkungan. Serangga ini hanya mampu hidup di habitat dengan kualitas air yang bersih, tanah yang sehat, serta tingkat polusi cahaya yang rendah.
Ketika populasi kunang-kunang menurun atau bahkan menghilang, hal itu menjadi indikasi kuat bahwa kondisi lingkungan di wilayah tersebut mengalami degradasi.
“Di mana ada kunang-kunang, di situ biasanya terdapat ekosistem yang masih terjaga,” ungkap Andi salah satu pengamat lingkungan.
Data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan bahwa ancaman terhadap kunang-kunang bukan sekadar isu lokal, melainkan sudah menjadi perhatian global.
Dari 128 spesies yang di teliti, sekitar 11 persen di antaranya masuk kategori terancam punah. Sementara itu, 2 persen lainnya di klasifikasikan sebagai rentan terhadap kepunahan.
Angka ini memperlihatkan bahwa populasi kunang-kunang mengalami tekanan serius akibat perubahan lingkungan yang terjadi secara masif.
Salah satu penyebab utama menurunnya populasi kunang-kunang adalah polusi cahaya. Lampu jalan, penerangan rumah, hingga cahaya dari kawasan perkotaan mengganggu pola komunikasi mereka.
Kunang-kunang menggunakan cahaya sebagai sarana komunikasi, terutama saat musim kawin. Kedipan cahaya menjadi sinyal untuk menarik pasangan. Ketika cahaya buatan terlalu dominan, sinyal alami tersebut menjadi tidak efektif.
Akibatnya, proses reproduksi terganggu dan populasi pun menurun secara bertahap.
Selain polusi cahaya, perubahan fungsi lahan, penggunaan pestisida, serta hilangnya area lembap turut mempercepat penurunan populasi kunang-kunang.
Larva kunang-kunang umumnya hidup di lingkungan lembap seperti tanah basah, tumpukan daun, atau kayu lapuk. Habitat ini semakin jarang di temukan akibat praktik pertanian modern dan pembangunan.
Masyarakat sebenarnya dapat berperan dalam menjaga keberlangsungan kunang-kunang dengan langkah-langkah sederhana, seperti:
- Mengurangi penggunaan lampu berlebihan di malam hari
- Membiarkan area alami seperti tumpukan daun atau kayu lapuk di halaman
- Mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya di lingkungan
- Langkah kecil ini dapat membantu menciptakan kembali habitat yang ramah bagi kunang-kunang.
Dulu, pemandangan sawah berkelip oleh cahaya kunang-kunang menjadi hal yang biasa di banyak daerah. Kini, suasana tersebut perlahan menghilang dan menjadi kenangan.
Jika tidak ada upaya nyata untuk menjaga lingkungan, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya mengenal kunang-kunang sebagai cerita atau dongeng semata.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa menjaga keseimbangan alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. Kerlip kecil kunang-kunang sejatinya adalah tanda besar bahwa alam masih dalam kondisi baik.**







