Home / Daerah / Internasional / Nasional / News / Sosbud

Jumat, 15 Mei 2026 - 08:15 WIB

100 Tahun Jam Gadang Bukittinggi pada 2026, Ikon Minangkabau yang Jadi Saksi Sejarah Zaman

Oplus_131072

Oplus_131072

Bukittinggi, http://Eksisjambi.com – Di tengah hiruk-pikuk Kota Bukittinggi, berdiri megah sebuah menara jam legendaris yang telah menjadi simbol kebanggaan masyarakat Minangkabau, yakni Jam Gadang. Tahun 2026 menjadi momen istimewa karena tepat menandai 100 tahun berdirinya ikon wisata bersejarah tersebut.

Selama satu abad, Jam Gadang tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk waktu, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan sejarah bangsa, mulai dari era kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga Indonesia merdeka.

Jam Gadang di bangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, seorang controleur Fort de Kock atau wilayah yang kini di kenal sebagai Bukittinggi. Pembangunan menara jam ini menghabiskan biaya sekitar 3.000 Gulden pada masa itu.

Bangunan bersejarah ini di rancang oleh arsitek Minangkabau, Yazid Abidin Rajo Mangkuto Sutan Gigi Ameh. Menara setinggi 26 meter tersebut memiliki empat tingkat dan di bangun menggunakan teknik konstruksi tradisional tanpa semen.

Sebagai perekat bangunan, di gunakan campuran kapur, putih telur, dan pasir putih. Teknik ini menjadi salah satu keunikan konstruksi Jam Gadang yang masih kokoh berdiri hingga sekarang.

Baca Juga :  Gunung Semeru Alami Letusan Sekunder dan Awan Panas, PVMBG Imbau Warga Tetap Waspada

Setiap bagian Jam Gadang memiliki fungsi tersendiri. Tingkat pertama di gunakan sebagai ruang petugas. Tingkat kedua menjadi tempat dua bandul besar yang berfungsi sebagai pemberat jam.

Sementara itu, tingkat ketiga menjadi pusat mesin penggerak jarum jam, dan tingkat paling atas menjadi lokasi lonceng utama di tempatkan.

Mesin jam Jam Gadang di produksi oleh perusahaan Jerman, Vortmann Recklinghausen. Mesin tersebut di sebut sebagai edisi langka karena hanya ada dua unit di dunia. Salah satu mesin serupa digunakan pada Big Ben di Inggris.

Keunikan lain terlihat pada angka Romawi di permukaan jam. Angka empat di tulis menggunakan format “IIII”, bukan “IV” seperti umumnya penulisan angka Romawi pada jam modern.

Perjalanan sejarah Jam Gadang juga tercermin dari perubahan bentuk atapnya yang terjadi beberapa kali sesuai pergantian kekuasaan.

Pada masa kolonial Belanda, atap Jam Gadang berbentuk kubah runcing khas Eropa dan di hiasi ornamen ayam jantan. Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942–1945, bentuk atap di ubah menyerupai pagoda Jepang.

Baca Juga :  UMKM Itiak Lado Hijau Asal Agam Tembus Pasar Internasional, Raup Omzet Hingga Rp70 Juta per Bulan

Setelah Indonesia merdeka, atap Jam Gadang kembali mengalami perubahan menjadi gonjong khas rumah adat Minangkabau. Bentuk ini bertahan hingga sekarang dan menjadi identitas budaya yang melekat kuat pada bangunan tersebut.

Saat ini, Jam Gadang menjadi salah satu destinasi wisata paling populer di Sumatera Barat. Kawasan di sekeliling menara selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara, terutama saat malam hari dan musim liburan.

Selain menjadi pusat wisata dan fotografi, Jam Gadang juga memiliki nilai budaya yang kuat bagi masyarakat Minangkabau. Bangunan ini di anggap sebagai simbol identitas daerah sekaligus pengingat perjalanan sejarah panjang Bukittinggi.

Memasuki usia satu abad pada 2026, Jam Gadang tetap berdiri kokoh sebagai penanda waktu sekaligus warisan sejarah yang terus hidup di tengah perkembangan zaman.**

Share :

Baca Juga

Artikel

Misteri Rantai Babi Asli Tembus Cahaya
Danrem 011 Lilawangsa

Hukum

Danrem 011/Lilawangsa Bubarkan Pembawa Bendera GAM di Jalan Nasional Banda Aceh–Medan

Advertorial

Komisi III DPRD Jambi Study Banding ke PUPR Provinsi Sumsel
Wakil Bupati Tanjung Jabung Timur

Daerah

Wabup Muslimin Tanja Pimpin Langsung Penanaman Serentak Terkait Pulihkan Kawasan Lingkungan Hidup.

Advertorial

Gubernur Al Haris Apresiasi Langkah KPK Dampingi Perjuangkan PI 10 Persen

Advertorial

Banggar DPRD Kota Sungai Penuh Audensi ke BPKP Provinsi Jambi

Daerah

Keluhan Warga Dusun Dikabupaten Tebo Belum Di Aliri Listrik PLN

Advertorial

Gubernur Al Haris Sampaikan Nota Pengantar Ranperda APBDP 2024