Ketika Merangin Hidup dari Asumsi dan Prasangka

Oleh: Ali Prawinata

“Berpikir itu sulit, makanya kebanyakan orang lebih suka menilai.” Carl Gustav Jung, Ada sesuatu yang sangat melekat pada watak sosial kita hari ini: keengganan berpikir dan kecintaan menilai. Di Merangin, gejala ini bukan sekadar tabiat sesekali. Ia telah menjadi pola, bahkan bisa dibilang menjadi budaya: budaya prasangka.

Dalam masyarakat yang katanya menjunjung kearifan lokal, justru refleksi mendalam dan diskusi jujur tentang kenyataan sering kali ditanggapi dengan curiga, atau lebih buruk lagi—dimusuhi. Seseorang yang mempertanyakan kebijakan dianggap pembangkang. Mahasiswa yang menyuarakan kritik distempel cari panggung. Guru yang menyampaikan keluhan dinilai kurang bersyukur. Aktivis yang bersuara keras dicap pengacau. Dan rakyat yang menuntut haknya dianggap terlalu banyak mau.

Label-label ini bukan hanya mengerdilkan perdebatan, tapi juga membunuh kemungkinan adanya pembaruan. Dengan menempelkan identitas negatif pada orang yang berbeda pandangan, kita menghindari satu hal paling penting dalam kehidupan sosial: berpikir bersama.

Ketika Kritik Dianggap Ancaman, Mari kita ambil satu contoh yang tidak asing. Beberapa waktu lalu, sejumlah mahasiswa di Merangin menyuarakan protes terhadap pengadaan mobil dinas baru di tengah isu PETI (Penambangan Emas Tanpa Izin) yang terus menelan korban dan merusak lingkungan. Alih-alih dialog, yang datang justru serangan balik: mereka dianggap tidak sopan, tidak mengerti aturan, dan sekadar mencari perhatian.

Tidak ada ruang untuk duduk bersama. Tidak ada keinginan membuka data secara jujur. Tidak ada usaha untuk benar-benar memahami keresahan yang disampaikan.

Kenapa? Karena berpikir jernih dan terbuka adalah pekerjaan berat—jauh lebih berat daripada sekadar menilai. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mendengar, kejujuran untuk mengakui kekurangan, dan keberanian untuk mengubah arah. Sementara itu, menilai hanya butuh satu alis yang terangkat, sepotong kalimat meremehkan, dan selesai.

Baca Juga :  DPR RI Gerak Cepat Jaga Stabilitas Ekonomi, Harga Gas Industri Dipangkas demi Lindungi Lapangan Kerja

Stabilitas Semu yang Dipelihara, Di balik reaksi cepat terhadap kritik, tersimpan sebuah rasa takut: takut kehilangan narasi besar yang telah dibangun. Kita hidup dalam bayang-bayang narasi “kemajuan”, “pembangunan”, “harmoni”, dan “semua-baik-baik-saja”. Narasi ini perlu dijaga, bahkan jika harus dengan menutup telinga atas jeritan dari bawah.

Inilah stabilitas semu yang selama ini dipelihara: damai di permukaan, retak di dalam. Seolah-olah tak ada yang salah, padahal masalah telah lama menggerogoti fondasi kehidupan sosial: pendidikan yang pincang, pelayanan publik yang stagnan, ekonomi yang timpang, serta lingkungan yang rusak akibat eksploitasi tak bertanggung jawab.

Ketika ada suara yang membongkar kenyataan ini, sistem refleksnya adalah defensif. Kritik dipahami sebagai gangguan, bukan peluang. Koreksi dilihat sebagai ancaman, bukan peringatan. Maka lahirlah budaya anti-kritik, yang menyebar dari birokrasi ke masyarakat luas.

Dari Empati Menuju Opini, Tragedi tambang ilegal yang memakan korban jiwa adalah contoh nyata dari kegagalan berpikir sistemik. Setiap kali nyawa melayang di lubang PETI, respons yang muncul sering kali bukan empati atau introspeksi, melainkan opini-opini yang memelintir arah.

Alih-alih bertanya “mengapa tragedi ini terus terjadi?”, banyak yang lebih sibuk mencari siapa penyebar video, siapa yang “mencemarkan nama baik”, siapa yang “membuat gaduh”.

Ini adalah bentuk pembelokan isu. Padahal nyawa telah hilang, keluarga berduka, dan lingkungan rusak parah. Tapi yang lebih cepat mengemuka justru pertanyaan: siapa yang menyebarkan, bukan siapa yang membiarkan. Lagi-lagi, penilaian mengalahkan perenungan.

Berpikir: Kerja Sunyi yang Dihindari, Carl Jung tahu betul bahwa berpikir bukan perkara sepele. Ia adalah kerja sunyi, reflektif, dan sering kali menyakitkan. Karena dalam proses berpikir itulah kita harus berhadapan dengan kemungkinan besar bahwa kita salah. Bahwa selama ini kita hidup dalam kenyamanan palsu, bahwa kita menikmati posisi tanpa benar-benar menjalankan fungsi.

Baca Juga :  Ketua DPRD H.Fajran Hadiri Rembuk & Monev Stunting Di Desa Koto Renah

Namun, di Merangin hari ini, keberanian berpikir semacam itu masih sangat langka. Di ruang-ruang pemerintahan, sekolah, media lokal, bahkan ruang publik, kita lebih sering menjumpai kalimat-kalimat penghakiman daripada argumen yang menantang. Kita lebih banyak menemukan opini yang dilontarkan dengan cepat daripada pemikiran yang dibangun dengan sabar.

Budaya berpikir runtuh karena digantikan budaya “sok tahu”. Dan itu lebih berbahaya dari kebodohan, karena merasa tahu membuat seseorang berhenti belajar.

Menuju Masyarakat yang Belajar, Apa yang sebenarnya kita butuhkan di Merangin? Bukan lebih banyak pembangunan fisik. Bukan lebih banyak baliho. Bukan lebih banyak jargon.

Yang kita butuhkan adalah keberanian berpikir. Keberanian untuk mendengar yang tak sependapat. Keberanian untuk mengubah kebijakan yang terbukti gagal. Keberanian untuk mengakui bahwa, mungkin, kita salah.

Itu bukan tanda kelemahan. Justru di situlah letak kekuatan sebuah masyarakat: saat ia mampu belajar dari kesalahan, bukan menutupinya. Saat ia menghargai perbedaan pandangan, bukan memusuhinya. Saat ia mendahulukan empati, bukan opini.

Penutup, Merangin akan terus berjalan. Tapi ke mana arahnya? Menuju kemajuan sejati atau hanya pencitraan abadi? Jawabannya tergantung pada satu hal: Apakah kita cukup berani untuk berhenti menilai, dan mulai berpikir? Karena berpikir bukan hanya soal logika, Ia adalah tindakan moral, Dan di tanah ini, keberanian moral adalah yang paling dibutuhkan saat ini.(*)

Share :

Baca Juga

Kerinci

Kerinci Hilir Masuk Prioritas DOB,Tinggal Tunggu PP

Daerah

Bangun Kepatuhan Pajak, Bukan Ketakutan untuk Perkuat Ekonomi Indonesia dan Jambi
Sholawat Sunan Ampel,

Artikel

Sholawat Sunan Ampel, Warisan Spiritualitas Walisongo 

Daerah

Walikota Alfin Hadiri Gebyar Kelas Ibu Hamil se-Kota Sungai Penuh

Daerah

Sabet WTP  Ke -8 Beruntun, Bupati Dillah Tegaskan Anggaran Harus Jadi Cambuk Kesejahteraan Rakyat.
Puluhan Satuan di Kodam I/Bukit Barisan Terima 41 Kendaraan Dinas Baru dari Kemhan RI

Daerah

Puluhan Satuan di Kodam I/Bukit Barisan Terima 41 Kendaraan Dinas Baru dari Kemhan RI

Daerah

AYIMUN Buka Jalan Remaja Jadi Pembicara Global

Advertorial

Team Kesehatan Satgas TMMD Bagikan Masker Pada Warga SAD