Bireuen, Aceh, http://Eksisjambi.com– Di tengah puing-puing dan sisa lumpur pascabanjir yang melanda Gampong Cot Ara, Kabupaten Bireuen, Aceh, suasana haru menyelimuti sebuah momen sederhana namun penuh makna.
Lantunan ayat suci Al-Qur’an dari Surah Ad-Dhuha terdengar merdu dari suara ananda Muhammad Anshar, siswa MTs Negeri 9 Bireuen, yang membacanya dengan penuh penghayatan di hadapan para penyintas dan rombongan pejabat yang berkunjung.
Surah Ad-Dhuha yang di lantunkan Anshar seakan menjadi penguat batin bagi warga terdampak. Ayat-ayatnya mengingatkan bahwa di balik setiap kesulitan selalu ada kemudahan, serta menegaskan bahwa Allah SWT tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, bahkan di saat ujian terasa paling berat.
Momen tersebut semakin bermakna dengan kehadiran Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, yang secara langsung menyapa anak-anak korban banjir.
Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari upaya trauma healing bagi anak-anak dan masyarakat terdampak, khususnya para pelajar yang mengalami tekanan psikologis akibat bencana.
Dalam kesempatan itu, Menteri Agama menegaskan pentingnya pemulihan mental dan spiritual pascabencana, terutama bagi generasi muda. Menurutnya, masjid dan lembaga pendidikan keagamaan memiliki peran strategis sebagai ruang aman untuk menumbuhkan kembali ketenangan, harapan, dan semangat bangkit.
“Masjid adalah tempat terbaik untuk menemukan ketenangan dan kekuatan. Dari sinilah kita belajar ikhlas, sabar, dan kembali menata kehidupan,” pesan Menag kepada para anak-anak dan warga yang hadir.
Kementerian Agama, lanjutnya, berkomitmen memastikan bahwa proses pendidikan anak-anak penyintas banjir tetap berjalan, baik melalui pendampingan psikososial, dukungan sarana pendidikan, maupun penguatan nilai-nilai keagamaan yang menumbuhkan optimisme.
Warga Cot Ara menyambut kunjungan tersebut dengan penuh haru dan rasa syukur. Kehadiran pemerintah di tengah mereka menjadi bukti nyata bahwa para penyintas tidak di biarkan berjuang sendiri menghadapi dampak bencana.
Di akhir kegiatan, doa di panjatkan bersama untuk keselamatan dan kekuatan seluruh masyarakat Aceh. Lantunan Al-Fatihah pun mengiringi harapan agar ananda Muhammad Anshar dan seluruh saudara-saudara kita di Aceh senantiasa di beri ketabahan, kekuatan, serta kemudahan dalam menata kembali kehidupan pascabanjir. (*)







